Don't Show Again Yes, I would!

Sejarah dan Makna Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H bagi Umat Muslim

Simak sejarah penetapan 1 Muharram dan makna hijrah di era modern. Jadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum muhasabah diri untuk kehidupan yang lebih baik.

Foto: Unsplash

LiteX.co.id, Islam – Setiap tahun, masyarakat di seluruh belahan dunia terbiasa menyambut pergantian tahun Masehi dengan gegap gempita, pesta kembang api, dan hitung mundur yang meriah.

Namun, hal ini sangat kontras dengan tradisi perayaan Tahun Baru Islam yang jatuh pada tanggal 1 Muharram.

Dalam penanggalan umat muslim, pergantian tahun hadir dengan penuh ketenangan.

Ketiadaan pesta pora justru menjadi pembeda mendasar yang menegaskan bahwa 1 Muharram 1448 H bukanlah sekadar euforia sesaat maupun sekadar pergantian angka kalender.

Momentum ini sejatinya adalah panggung untuk refleksi diri (muhasabah), menapaktilasi perjalanan sejarah Islam, dan sarana memupuk komitmen untuk hijrah ke arah yang lebih baik.

Penetapan sistem kalender Hijriah tidak lahir secara instan.

Sebelum Islam datang, masyarakat Jazirah Arab memang telah menggunakan sistem penanggalan Qamariyah (berdasarkan peredaran bulan) dengan nama-nama bulan yang kita kenal saat ini, mulai dari Muharram hingga Dzulhijjah.

Akan tetapi, mereka belum memiliki sistem “angka tahun” yang terstandardisasi. Penamaan tahun biasanya didasarkan pada peristiwa-peristiwa besar yang terjadi, seperti “Tahun Gajah”.

Kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku baru mendesak pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA, sekitar tahun 17 Hijriah (638 Masehi).

Dalam sebuah riwayat, kekacauan administratif mulai terjadi seiring meluasnya ekspansi wilayah Islam.

Puncaknya adalah ketika Gubernur Bashrah, Abu Musa al-Asy’ari, melayangkan keluhan kepada Khalifah Umar karena kesulitan mengarsipkan surat-surat kenegaraan.

Suatu ketika, sebuah dokumen hukum diterima dengan hanya mencantumkan bulan “Syakban” tanpa keterangan tahun.

Kebingungan pun muncul; apakah surat itu berlaku untuk Syakban tahun lalu, tahun ini, atau tahun depan?

Merespons polemik tersebut, Khalifah Umar segera mengumpulkan para sahabat terkemuka untuk menggelar musyawarah.

Muncul berbagai usulan terkait titik nol penanggalan, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi rasul, hingga tahun wafatnya.

Namun, atas usulan tajam dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA, forum akhirnya menyepakati bahwa tonggak awal penanggalan Islam harus dihitung sejak momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah (622 M).

Alasan logisnya sangat kuat: peristiwa hijrah adalah garis demarkasi yang memisahkan kebenaran (hak) dan kebatilan. Sebelum hijrah, umat Islam adalah kelompok yang tertindas.

Pasca-hijrah, Islam sukses meletakkan fondasi peradaban dan kekuatan politik yang solid.

Lantas, mengapa bulan Muharram yang dipilih sebagai bulan pertama, padahal secara faktual peristiwa hijrah terjadi di bulan Rabiul Awal?

Usulan ini diajukan oleh Utsman bin Affan RA dengan argumentasi rasional:

  1. Muharram adalah bulan pertama dalam tata penanggalan masyarakat Arab sejak zaman Jahiliyah.
  2. Muharram adalah bulan pasca-selesainya pelaksanaan ibadah haji akbar di bulan Dzulhijjah.
  3. Tekad bulat Rasulullah untuk berhijrah sejatinya pertama kali dimatangkan pada bulan Muharram, tepat setelah berlangsungnya peristiwa Baiat Aqabah kedua.

Bulan Muharram memiliki kedudukan yang sangat agung dalam kacamata Islam.

Muharram adalah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itu (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Selain itu, Muharram secara spesifik juga dijuluki sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Dalam bulan ini, pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan.

Meski tidak ada ritual ibadah khusus untuk merayakan malam pergantian tahun, umat muslim sangat dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah berikut sepanjang bulan Muharram:

  1. Puasa Asyura (10 Muharram): Ini adalah puasa sunah paling utama setelah puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim).
  2. Introspeksi Diri (Muhasabah): Merenungi kesalahan masa lalu dan merancang resolusi perbaikan ibadah. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
  3. Memperbanyak Dzikir dan Doa.
  4. Menyantuni Fakir Miskin dan Memperbanyak Sedekah.
  5. Menyambung Tali Silaturahmi.

Hijrah di masa kini bermakna transformasi mental, spiritual, dan sosial menuju kondisi yang lebih paripurna.

Bentuk nyata hijrah modern ini bisa diaplikasikan dengan cara meningkatkan kualitas ibadah harian, memperbaiki integritas dalam berbisnis, menjauhi perkara riba, hingga sekadar menjaga lisan dari ujaran kebencian di dunia maya.

Oleh karena itu, peringatan 1 Muharram 1448 H yang jatuh pada Selasa (16/06/2026) ini harus menjadi katalisator kebangkitan umat.

Dengan memperbaiki akhlak, menebar kebermanfaatan bagi sesama, dan meneladani sejarah perjuangan Rasulullah, umat Islam diharapkan mampu menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai titik tolak menuju kehidupan yang lebih diridai, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *