LiteX.co.id, Jepang – Industri penerbitan dan sastra Jepang kehilangan salah satu tokoh terbesarnya.
Keigo Higashino, penulis yang dikenal melalui deretan novel misteri dan seri Detektif Galileo, meninggal dunia pada usia 68 tahun.
Kabar tersebut diumumkan penerbit Kodansha melalui situs resminya pada Senin (27/07/2026). Higashino disebut mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker usus besar.
“Keigo Higashino meninggal dunia karena mengidap sakit kanker usus besar. Pemakamannya telah dilangsungkan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Kami menyampaikan belasungkawa yang terdalam,” tulis Kodansha dalam keterangannya.
Dengan demikian, tanggal wafat yang dikonfirmasi penerbit adalah 23 Juli, bukan 22 Juli sebagaimana disebut dalam sebagian laporan awal.
Prosesi pemakaman telah dilaksanakan secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga.
Penerbit juga meminta media dan masyarakat menghormati privasi pihak keluarga dengan tidak melakukan wawancara maupun pendekatan langsung.
Keluarga tidak menerima uang duka, karangan bunga, atau bentuk ucapan belasungkawa lainnya.
Adapun informasi mengenai acara penghormatan atau peringatan khusus akan disampaikan setelah seluruh persiapannya selesai.
Kodansha memastikan warisan cerita yang ditinggalkan Higashino akan terus tersedia bagi pembaca.
Karya-karyanya dipandang telah melampaui batas genre misteri karena turut menyentuh persoalan keluarga, kesetiaan, kejahatan, rasa bersalah, keadilan, dan sisi gelap manusia.
Keigo Higashino lahir di Osaka pada 4 Februari 1958.
Sebelum dikenal sebagai penulis, ia menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Elektro Universitas Prefektur Osaka.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Higashino bekerja sebagai insinyur di bidang teknik produksi.
Kesibukannya sebagai pekerja tidak menghentikan kegemarannya menulis cerita misteri pada waktu luang.
Naskah yang kelak membuka jalan kariernya adalah Hokago atau After School.
Novel tersebut memenangkan Penghargaan Edogawa Rampo ke-31 pada 1985 dan menjadi debut resminya di dunia sastra.
Keberhasilan itu membuat Higashino meninggalkan pekerjaan sebagai insinyur.
Ia kemudian pindah ke Tokyo dan memusatkan seluruh perhatiannya pada dunia penulisan.
Latar belakang teknik ikut membentuk karakter karya-karyanya.
Ia dikenal piawai merancang teka-teki dengan konstruksi logis, penggunaan ilmu pengetahuan, serta rincian penyelidikan yang terukur.
Namun, daya tarik ceritanya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa pelaku kejahatan.
Higashino kerap memperlihatkan alasan seseorang melakukan tindak kriminal sekaligus dampaknya terhadap korban, keluarga, penyidik, dan orang-orang di sekitar mereka.
Nama Higashino semakin dikenal melalui seri Detektif Galileo yang mulai diterbitkan pada 1998.
Seri tersebut menampilkan Yukawa Manabu, fisikawan jenius yang membantu kepolisian memecahkan kasus-kasus dengan metode ilmiah.
Latar belakang Higashino sebagai lulusan teknik memberi ciri khas pada seri ini.
Berbagai kasus dibangun melalui perpaduan antara eksperimen ilmiah, teka-teki kriminal, dan karakter manusia dengan kepentingan yang rumit.
Salah satu bagian terpenting dari seri Galileo adalah The Devotion of Suspect X.
Novel tersebut mempertemukan Yukawa dengan seorang ahli matematika yang berusaha menyembunyikan pembunuhan demi melindungi orang yang dicintainya.
Alih-alih menyembunyikan identitas pelaku hingga bagian akhir, Higashino mengungkap sebagian peristiwa kejahatan sejak awal.
Ketegangan kemudian dibangun melalui pertarungan kecerdasan antara pihak yang menutupi kejahatan dan mereka yang berusaha membongkarnya.
Novel itu mengantarkan Higashino meraih Penghargaan Naoki ke-134 serta Honkaku Mystery Grand Prize ke-6 pada 2006.
Karya tersebut juga pernah masuk nominasi Edgar Award untuk kategori novel terbaik.
Kesuksesannya kemudian meluas ke layar kaca dan bioskop.
Seri Galileo diadaptasi menjadi drama televisi, sementara sejumlah novelnya dikembangkan menjadi film dan pertunjukan panggung di Jepang maupun negara lain.
Selama sekitar empat dekade berkarya, Higashino menghasilkan 106 buku di luar karya kolaborasi.
Jumlah peredaran bukunya di Jepang tercatat sekitar 109 juta eksemplar, sementara karya-karyanya telah diterbitkan di 41 negara dan wilayah.
Selain seri Galileo, ia dikenal melalui Journey Under the Midnight Sun, Malice, seri Kyoichiro Kaga, seri Masquerade, dan The Miracles of the Namiya General Store.
Karya-karyanya memperlihatkan rentang tema yang luas.
Sebagian berbentuk cerita detektif dengan teka-teki kompleks, sedangkan karya lain lebih menonjolkan drama keluarga, penyesalan, hubungan antargenerasi, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Produktivitasnya berlanjut hingga menjelang akhir hayat.
Novel terbaru dalam seri Galileo berjudul Eien no Kioku atau Eternal Memory dijadwalkan terbit di Jepang pada Rabu (05/08/2026).
Novel tersebut dipromosikan sebagai kisah yang akan membuka salah satu misteri terbesar dalam perjalanan Galileo.
Penerbit Bungeishunju mencantumkannya sebagai karya terbaru seri tersebut dengan tanggal penerbitan 5 Agustus 2026.
Popularitas Keigo Higashino juga menjangkau pembaca Indonesia.
Sejumlah karyanya telah diterjemahkan dan beredar dalam bahasa Indonesia.
Beberapa judul yang dikenal pembaca Tanah Air antara lain Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis, Angsa dan Kelelawar, serta Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama.
Keajaiban Toko Kelontong Namiya memperlihatkan sisi lain Higashino yang tidak hanya bergantung pada pembunuhan dan penyelidikan.
Novel tersebut menggabungkan misteri, perjalanan waktu, persoalan kehidupan, dan hubungan emosional antarmanusia.
Sementara itu, Malice menampilkan permainan psikologis dalam penyelidikan kematian seorang novelis.
Ceritanya tidak semata-mata mencari pelaku, tetapi juga membedah motif, kebencian, dan cara seseorang membangun kebohongan.
Kemampuannya berpindah dari misteri ilmiah menuju drama kemanusiaan membuat karya Higashino diterima oleh pembaca dengan latar belakang berbeda.
Karier panjang Higashino dihiasi sejumlah penghargaan sastra terkemuka.
Selain Edogawa Rampo Prize dan Naoki Prize, ia memenangkan Mystery Writers of Japan Award melalui novel Himitsu pada 1999.
Ia juga meraih Chuo Koron Prize for Literature melalui The Miracles of the Namiya General Store, Renzaburo Shibata Award untuk Dream Flower, serta Eiji Yoshikawa Prize for Literature melalui The Final Curtain.
Pengakuan terhadap kontribusinya berlanjut melalui Noma Publishing Culture Award, Kikuchi Kan Prize, dan Japan Mystery Literature Grand Prize.
Pemerintah Jepang juga menganugerahinya Medal with Purple Ribbon pada 2023.
Higashino pernah memimpin organisasi Mystery Writers of Japan pada periode 2009 hingga 2013.
Posisi tersebut menunjukkan pengaruhnya tidak hanya sebagai pengarang populer, tetapi juga sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan sastra misteri Jepang.
Kepergiannya memicu duka dari pembaca di berbagai negara, khususnya Jepang dan negara-negara Asia.
Banyak pembaca mengenangnya sebagai penulis yang memperkenalkan mereka kepada novel misteri dan membentuk kecintaan mereka terhadap kegiatan membaca.
Meski perjalanan hidupnya telah berakhir, teka-teki, konflik batin, dan manusia-manusia yang diciptakannya akan tetap hidup dalam halaman buku.
Sebagaimana disampaikan penerbitnya, cerita-cerita Keigo Higashino diyakini akan terus menemukan pembaca baru pada masa mendatang.






