LiteX.co.id, Luwu – Musim panen raya tengah berlangsung di sejumlah wilayah Luwu Raya, namun kondisi tersebut justru dibayangi persoalan penyerapan gabah.
Maklon yang selama ini diharapkan membantu menyerap dan mengolah hasil panen disebut tidak beroperasi, sehingga petani berpotensi menghadapi keterbatasan pembeli saat produksi gabah meningkat.
Kondisi ini dikhawatirkan membuat pasokan gabah menumpuk di tingkat petani.
Jika kapasitas penyerapan tidak mampu mengimbangi lonjakan produksi, posisi tawar petani dapat melemah dan harga gabah berpotensi tertekan.
Sekretaris Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu, Muh Ashar, meminta pemerintah pusat melalui kementerian terkait bersama Perum Bulog memastikan kemitraan dengan maklon di daerah tetap berjalan, terutama di tengah musim panen raya.
“Pemerintah melalui kementerian terkait dan Bulog di daerah perlu mengupayakan agar kemitraan dengan maklon terus berjalan. Ini penting untuk membantu penyerapan gabah petani”ujarnya.
Menurut Ashar, keberadaan maklon penting untuk memperluas kapasitas penyerapan gabah petani.
Saat panen berlangsung serentak, peningkatan produksi harus diimbangi dengan tersedianya pembeli dan fasilitas pengolahan yang memadai
Sebaliknya, apabila maklon berhenti beroperasi atau tidak melakukan penyerapan secara optimal, petani berpotensi menghadapi keterbatasan pembeli pada saat pasokan gabah sedang tinggi.
Kondisi tersebut dapat memicu antrean penjualan maupun penumpukan gabah di tingkat petani karena kapasitas penggilingan dan pengolahan tidak sebanding dengan volume produksi yang masuk.
“Kalau kemitraan tersebut tidak berjalan, kapasitas penyerapan dan pengolahan gabah berpotensi berkurang. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko antrean atau penumpukan gabah ketika panen berlangsung serentak dan kapasitas penggilingan mengalami kelebihan beban,” katanya.
Menurut Ashar, persoalan tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap harga gabah di tingkat petani.
Ketika pasokan meningkat sementara pembeli terbatas, posisi tawar petani cenderung melemah.
Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya memastikan ketersediaan pasar bagi hasil panen, tetapi juga menjaga keberlanjutan jaringan penggilingan dan mitra pengolahan yang dapat membantu menyerap produksi petani.
“Pada akhirnya, tekanan terhadap harga gabah di tingkat petani juga berpotensi meningkat,” ujarnya.
Ashar berharap pemerintah melalui kementerian terkait bersama Bulog segera memastikan kemitraan dengan maklon tetap berjalan menghadapi musim panen raya.
Menurutnya, keberadaan mitra penggilingan dapat membantu memperluas jaringan penyerapan sekaligus mengurangi risiko penumpukan gabah.
Menanggapi terkait masalah yang dikuatirkan oleh Ashar, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Luwu, Wahyu Napeng yang diminta tanggapannya via telpon, menanggapi pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dan Bulog memberikan perhatian terhadap keberlanjutan kemitraan dengan maklon di daerah jangan terhenti.
Wahyu menilai, penyerapan gabah menjadi persoalan penting yang harus diantisipasi ketika produksi petani meningkat dalam waktu bersamaan.
“Kalau maklon tidak menyerap gabah petani, bisa berdampak terhadap harga di lapangan. Karena itu, kemitraan ini perlu diupayakan agar tetap berjalan, terutama menghadapi musim panen raya,” kata Wahyu.
Ia menekankan bahwa apa yang disampaikan oleh Sekretaris Yayasan Alam Lestari, keberadaan saluran penyerapan sangat dibutuhkan petani ketika panen berlangsung serentak.
Tanpa dukungan kapasitas pembelian dan pengolahan yang cukup, peningkatan produksi justru dapat menimbulkan tekanan terhadap harga gabah.
Dengan demikian, pemerintah dan Bulog diharapkan dapat memastikan seluruh jaringan penyerapan yang tersedia di daerah dapat berfungsi maksimal selama musim panen raya.
Bagi petani, keberlanjutan penyerapan bukan hanya berkaitan dengan tersedianya pembeli, tetapi juga menyangkut kepastian pasar dan upaya menjaga agar peningkatan produksi tidak berujung pada penurunan harga gabah di tingkat petani.
Di tengah berlangsungnya panen raya di Luwu Raya, perhatian terhadap keberadaan maklon pun menjadi semakin penting.
Jika kapasitas penyerapan tidak mampu mengikuti lonjakan produksi, ancaman penumpukan gabah dan tekanan harga menjadi persoalan yang perlu segera diantisipasi. (redaksi/*)






