LiteX.co.id, Luwu – Jalur vital Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Luwu sempat mengalami kelumpuhan total pada Senin (3/2/2026).
Kondisi ini dipicu oleh aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar oleh kelompok masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Suli–Suli Barat.
Ratusan massa memadati jalan poros di depan Lapangan Suli, memblokade akses lalu lintas sebagai bentuk protes keras dan desakan percepatan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya.
Aksi ini mengakibatkan antrean panjang kendaraan, mulai dari truk logistik hingga angkutan umum dari arah Makassar maupun Palopo, terjebak kemacetan selama kurang lebih empat jam.
Dalam orasinya, Koordinator Lapangan, Arman Salata, menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah pusat dan provinsi.
Menurutnya, jalur birokrasi reguler dinilai sudah buntu, sehingga mereka kini menaruh harapan terakhir pada kewenangan khusus Kepala Negara.
“Kami menuntut Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk menggunakan hak diskresinya. Luwu Raya harus segera dimekarkan menjadi provinsi sendiri. Kami sudah lelah menunggu janji tanpa realisasi,” seru Arman di tengah kerumunan massa.
Isu ketidakadilan ekonomi menjadi bahan bakar utama pergerakan ini.
Massa menilai, wilayah Luwu Raya selama ini diperlakukan tidak adil dalam hal pembagian kue pembangunan.
Padahal, kontribusi Luwu Raya terhadap kas Provinsi Sulawesi Selatan sangat signifikan.
“Luwu Raya ini tulang punggung ekonomi Sulsel, penyumbang PAD terbesar setelah Makassar. Tapi apa yang kami dapat? Dana bagi hasil yang kembali ke daerah kami sangat minim, tidak sampai 43 persen. Ini adalah bentuk ketidakadilan struktural yang nyata,” lanjut Arman dengan nada tinggi.
Massa yang berasal dari Kecamatan Suli dan Suli Barat silih berganti menyampaikan aspirasinya.
Mereka menyoroti ketimpangan infrastruktur dan pelayanan publik yang dinilai jauh tertinggal dibandingkan wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Bagi mereka, memisahkan diri dan membentuk provinsi baru adalah solusi mutlak untuk kesejahteraan rakyat.
Meskipun sempat membuat arus lalu lintas lumpuh total, aksi demonstrasi berjalan relatif kondusif tanpa insiden anarkis.
Aparat keamanan dari Polres Luwu yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Luwu, Kompol Misbahuddin, tampak bersiaga penuh di lokasi untuk memastikan keamanan dan bernegosiasi agar akses jalan bisa dibuka kembali.
Massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan seluruh tuntutannya, namun mereka mengancam akan kembali dengan jumlah yang lebih besar jika aspirasi pemekaran ini tidak segera mendapat respons positif dari Istana Negara.






