LiteX.co.id, Ragam – Di balik gegap gempita pembangunan, masih banyak anak-anak Indonesia yang menempuh pendidikan dengan air mata dan semangat baja.
Salah satunya adalah Galang Rawadang, bocah 12 tahun asal Desa Wakai, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, yang kisahnya menggetarkan hati banyak orang.
Setiap pagi, Galang berjalan menyusuri jalan tanah dengan seragam SD yang sudah lusuh dan sandal jepit bolong.
Ia tetap datang ke sekolah walau sering diejek karena penampilannya. Namun, semua itu tak mematahkan semangatnya. Ia ingin pintar, ingin belajar, dan yang terpenting, ingin mengubah nasib keluarga kecilnya.
Galang hidup berdua dengan ayahnya, Rikson Lawadang, yang mengalami kelumpuhan sejak dua tahun lalu.
Ibunya pergi meninggalkan mereka, dan sang kakak kini diasuh oleh orang lain. Sejak sakit, sang ayah tak lagi bisa bekerja. Untuk makan saja mereka mengandalkan bantuan tetangga.
Tangisan Galang sempat terekam dan viral di media sosial setelah memohon kepada ayahnya agar tidak menghentikannya sekolah.
“Pak, saya mau sekolah. Saya mau jadi orang pintar,” ujarnya lirih sambil menangis di video yang diunggah oleh seorang warga bernama Winda.
Video itu mengundang simpati ribuan warganet. Ajakan donasi bermunculan, dan tak lama kemudian, aparat kepolisian dari Polsek Una-Una datang langsung memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan kebutuhan pokok.
“Kami hadir sebagai bentuk kepedulian atas semangat luar biasa anak ini,” ujar AKP Mustarim Abbas, Sabtu (14/06/2025).
Namun Galang bukan satu-satunya anak yang harus berjuang melawan kemiskinan demi pendidikan.
Dari Cirebon hingga Madura, seorang remaja bernama Nurdin (17) menjajakan cobek keliling kota demi membantu perekonomian keluarga.
Putus sekolah setelah SMP, Nurdin memilih bekerja agar bisa meringankan beban ibunya.
Dengan cobek seberat belasan kilogram di pundaknya, ia berjalan kaki dari rumah ke rumah menjajakan dagangannya. Dalam sebulan, penghasilannya hanya sekitar Rp200 ribu. Namun ia tak mengeluh.
“Saya ingin bantu ibu dan bahagiakan adik,” katanya dengan senyum tegar.
Kisah Nurdin juga viral setelah seorang konten kreator mengunggah perjuangannya ke media sosial. Banyak yang terharu dan menyebutnya sebagai contoh nyata anak muda yang pantang menyerah.
Galang dan Nurdin adalah simbol perjuangan anak-anak Indonesia yang tak menyerah pada keadaan.
Mereka menunjukkan bahwa mimpi tidak mati meski hidup dalam kekurangan. Mereka hanya butuh satu hal: kesempatan.
Kini, publik berharap pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat terus memberikan perhatian nyata. Agar tak ada lagi Galang atau Nurdin lain yang harus mengubur mimpinya hanya karena lahir dari keluarga kurang mampu.






