Don't Show Again Yes, I would!

Hujan Turun di Kalimantan, BMKG Sebut Ancaman Karhutla Belum Berakhir

Hujan mulai turun di Kalimantan, namun BMKG ingatkan ancaman karhutla belum berakhir. Simak kondisi terkini titik panas dan prakiraan cuaca di wilayah tersebut.

Arsip kebakaran hutan di Kalimantan. Foto: MWul/Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

LiteX.co.id, Nasional – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.

Meski membawa harapan bagi daerah terdampak kekeringan dan kabut asap, hujan tersebut belum dapat dipastikan mengakhiri kebakaran.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 9–11 Oktober 2026.

Di Kalimantan Barat, curah hujan harian tercatat mencapai 132 milimeter.

Angka tersebut menjadi salah satu catatan curah hujan tinggi secara nasional dalam periode pengamatan tersebut.

Namun, BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk sejumlah daerah di Kalimantan.

“Meskipun curah hujan diprediksi pada kategori rendah hingga menengah, tidak berarti bahwa hujan sama sekali tidak terjadi di Indonesia,” demikian penjelasan Direktorat Meteorologi Publik BMKG, dikutip dari laporan resmi prakiraan cuaca periode 13–19 Oktober 2026 yang diterbitkan Senin (12/10/2026).

BMKG menjelaskan, hujan masih dapat terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer, meskipun suatu wilayah secara umum berada dalam kondisi kering.

Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin menjadi beberapa faktor yang mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Di tengah turunnya hujan, ancaman karhutla di Kalimantan belum sepenuhnya mereda.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada Minggu (11/10/2026), sebanyak 329 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi teridentifikasi di empat provinsi Kalimantan.

Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 213 titik panas, disusul Kalimantan Barat 71 titik, Kalimantan Timur 30 titik, dan Kalimantan Selatan 15 titik.

Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak seluruhnya dapat langsung dinyatakan sebagai lokasi kebakaran aktif.

Selain titik panas, analisis citra satelit Himawari memperlihatkan adanya sebaran asap yang mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hujan di sebagian wilayah belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa ancaman kebakaran dan kabut asap telah berakhir.

Sementara hujan mulai tercatat di sejumlah wilayah, kondisi berbeda masih dialami Kalimantan Selatan.

Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan untuk periode 1–10 Oktober 2026, seluruh wilayah provinsi tersebut mengalami curah hujan kategori rendah.

Sebanyak 99,97 persen wilayah Kalimantan Selatan bahkan berada dalam kategori sifat hujan bawah normal.

“Minimnya intensitas curah hujan tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),” demikian keterangan Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan dalam laporan resminya yang diterbitkan Minggu (11/10/2026).

Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa kondisi kering berpotensi mengurangi ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Situasi ini perlu diwaspadai, terutama pada wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang hingga ekstrem panjang.

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan pada periode 16–19 Oktober 2026.

Wilayah yang berpotensi mengalami hujan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Meski demikian, peluang hujan tidak berarti seluruh wilayah Kalimantan akan diguyur hujan secara merata.

Intensitas dan persebaran hujan dapat berbeda antardaerah, bergantung pada kondisi atmosfer setempat.

Hujan dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi partikel asap di udara.

Namun, efektivitasnya dalam menekan kebakaran sangat bergantung pada intensitas, durasi, dan lokasi turunnya hujan.

Khusus pada kebakaran lahan gambut, api bahkan dapat bertahan di bawah permukaan tanah apabila air hujan tidak mampu menjangkau lapisan yang masih menyimpan bara.

Karena itu, upaya pemadaman dan pemantauan titik panas tetap diperlukan meskipun hujan mulai turun.

BMKG juga mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta potensi karhutla.

Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan hutan.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *