Don't Show Again Yes, I would!

Sebanyak 2.378 Orang Tewas, Wabah Ebola RD Kongo Jadi yang Terburuk

Wabah Ebola di RD Kongo kini menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut dengan 5.021 kasus. WHO memperingatkan epidemi masih jauh dari terkendali.

Ilustrasi partikel virus Ebola yang menempel pada permukaan sel terinfeksi. Foto: NIAID/Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

LiteX.co.id, Internasional – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) telah menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Data Kementerian Kesehatan RD Kongo yang dilaporkan Associated Press (AP) pada Rabu (19/08/2026) mencatat 5.021 kasus dan 2.378 kematian hingga Minggu (16/08/2026).

Jumlah korban jiwa itu telah melampaui wabah Ebola 2018–2020 di Kivu Utara dan Ituri.

Catatan WHO menunjukkan wabah tersebut menewaskan 2.299 orang dari total 3.481 kasus.

Meski menjadi yang paling mematikan di RD Kongo, wabah saat ini belum melampaui epidemi Ebola Afrika Barat 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Berdasarkan jumlah kasus, WHO menyebut wabah di RD Kongo sekarang sebagai yang terbesar kedua di dunia dan yang berkembang paling cepat sepanjang sejarah Ebola.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penularan telah menjangkau enam provinsi dan 55 zona kesehatan.

“Epidemi ini masih jauh dari terkendali,” kata Tedros dalam sambutan pembukaan rapat kedua Komite Darurat Regulasi Kesehatan Internasional, seperti dimuat di situs resmi WHO pada Selasa (18/08/2026).

Menurut Tedros, penularan bergerak lebih cepat dibandingkan semua wabah Ebola sebelumnya.

Konflik bersenjata, pengungsian, serta tingginya pergerakan penduduk melalui jalan darat, sungai, dan jalur pertambangan ikut mempercepat penyebaran virus.

WHO juga menyoroti banyaknya pasien yang meninggal di rumah atau lingkungan tempat tinggal mereka, bukan di pusat perawatan.

Sebagian korban juga tidak tercatat dalam daftar kontak yang sedang dipantau, mengindikasikan masih adanya rantai penularan yang belum ditemukan.

Dalam laporan wabah tertanggal 14 Agustus, WHO mencatat 4.665 kasus terkonfirmasi dan 2.184 kematian di RD Kongo hingga Rabu (12/08/2026).

Angka itu memakai batas waktu pencatatan lebih awal dibandingkan data Kementerian Kesehatan yang kemudian dilaporkan AP.

Laporan mingguan WHO Afrika dengan data hingga Minggu (16/08/2026) menyebut tingkat kematian kasar telah meningkat menjadi 47,4 persen.

Ituri masih menjadi pusat wabah.

Berdasarkan data WHO hingga 12 Agustus, provinsi tersebut menyumbang sekitar 85 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi dan 79 persen kematian.

Lima provinsi lain yang telah melaporkan kasus adalah Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uélé, Tshopo, dan Bas-Uélé.

Wabah disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis virus pemicu penyakit Ebola.

Virus menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta benda dan permukaan yang telah terkontaminasi.

Masa inkubasinya berkisar dua hingga 21 hari dan penderita belum menularkan virus sebelum gejala muncul.

Penanganannya lebih rumit karena belum tersedia vaksin atau obat khusus yang disetujui untuk penyakit akibat virus Bundibugyo.

WHO sedang menjalankan uji klinis PARTNERS untuk menilai penggunaan antibodi monoklonal MBP134 dan remdesivir.

Dua vaksin yang dirancang khusus untuk Bundibugyo juga telah memasuki tahap uji pada manusia.

Kondisi keamanan menjadi hambatan besar bagi petugas.

Hingga 12 Agustus, WHO mencatat sedikitnya 12 serangan terhadap fasilitas atau layanan kesehatan sejak status darurat kesehatan masyarakat internasional ditetapkan pada 17 Mei.

Setidaknya 155 tenaga kesehatan juga terinfeksi dan 45 di antaranya meninggal hingga 9 Agustus.

Mobilitas pekerja tambang emas tradisional di wilayah timur turut menyulitkan pelacakan kontak.

Para pekerja berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, termasuk kawasan terpencil yang tidak memiliki sistem pencatatan memadai.

AP melaporkan petugas kesehatan sempat kehilangan jejak dua pekerja tambang yang telah diidentifikasi sebagai kontak erat setelah keduanya berpindah lokasi.

Wabah secara resmi diumumkan pada 15 Mei, tetapi para ahli memperkirakan penularan telah berlangsung sejak Februari di Mongbwalu, wilayah pertambangan di Ituri.

Keterlambatan deteksi memberi virus waktu untuk menyebar sebelum respons kesehatan diperluas.

WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika meminta pemerintah dan mitra mempercepat deteksi kasus, pelacakan kontak, pemeriksaan laboratorium, perawatan pasien, serta pemakaman yang aman.

Dukungan dan pembayaran tepat waktu bagi petugas kesehatan juga dinilai mendesak.

WHO tetap menilai risiko penularan di RD Kongo sangat tinggi dan risiko bagi negara-negara yang berbatasan dengan wilayah terdampak tergolong tinggi.

Namun, risiko untuk kawasan Afrika lainnya dan tingkat global dinilai rendah.

Organisasi tersebut tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan dan meminta negara-negara memperkuat pengawasan serta kesiapan laboratorium.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *