Don't Show Again Yes, I would!

BPBD, MDA dan UNCP Kolaborasi Perkuat Enam Destana di Luwu

Pemkab Luwu resmi mengesahkan 10 Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah strategis memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana.

LiteX.co.id, Luwu – Pemerintah Kabupaten Luwu mengesahkan 10 desa sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) Tahun 2026.

Enam di antaranya mendapat pendampingan melalui kolaborasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, PT Masmindo Dwi Area (MDA), dan PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP).

Pengesahan dilakukan Bupati Luwu Patahudding dalam Apel Siaga Bersama dan Pengesahan Desa Tangguh Bencana di SDN 476 Makalua, Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Minggu (20/09/2026).

Kegiatan tersebut juga dikonfirmasi dalam publikasi resmi Pemerintah Kabupaten Luwu.

Enam desa yang mendapat pendampingan yakni Desa Ulusalu, Tolajuk, Boneposi, Rante Balla, dan Kadundung di Kecamatan Latimojong, serta Desa Bonelemo di Kecamatan Bajo Barat.

Sementara empat desa lainnya adalah Desa Karangkarangan, Lengkong, dan Padang Kalua di Kecamatan Bua, serta Desa Bosso Timur di Kecamatan Walenrang Utara.

Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana.

MDA menyebut program itu juga menjadi implementasi pilar Jaga Keselamatan Desa dalam Program Jaga Desa yang berasal dari aspirasi masyarakat melalui FORDES MATAPPA.

Dalam pelaksanaannya, BPBD Kabupaten Luwu berperan sebagai leading sector.

MDA dan PUSPENA UNCP mendukung proses pendampingan serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Kolaborasi tersebut juga menghadirkan WebGIS Destana, sistem informasi geospasial berbasis web yang memuat informasi kejadian, potensi, serta titik rawan bencana.

Sistem tersebut diarahkan untuk mendukung mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa.

Patahudding mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

“Alhamdulillah, dengan hadirnya MDA dan Universitas Cokroaminoto untuk bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu, kita menghasilkan beberapa program yang bisa memitigasi bencana yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Mudah-mudahan bencana tidak terjadi lagi,” ujar Patahudding.

Menurut Patahudding, pengalaman menghadapi bencana pada 2024 menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Latimojong, untuk memperkuat kesiapsiagaan.

Ia berharap pengembangan Destana dapat diperluas ke wilayah lain di Kabupaten Luwu.

Pemerintah Kabupaten Luwu juga menegaskan Destana tidak boleh sebatas formalitas.

Desa diharapkan mampu mengenali risiko, melakukan pencegahan dan mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta melakukan respons dan pemulihan ketika bencana terjadi.

Direktur Human Capital and Corporate Service MDA Muhammad Suhada mengatakan kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi.

“Ketangguhan menghadapi bencana harus dibangun sebelum bencana terjadi. Karena itu, yang kami dorong bukan hanya kesiapan menghadapi kondisi darurat, tetapi juga pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali serta mengelola risiko di wilayahnya,” kata Suhada.

Sementara itu, Ketua PUSPENA UNCP Ichwan Muis mengatakan pendampingan diarahkan agar masyarakat semakin mampu memahami risiko dan membangun kesiapsiagaan secara mandiri.

“Masyarakat didorong untuk mampu mengenali potensi dan risiko bencana di wilayahnya, memahami langkah mitigasi, serta memiliki kapasitas untuk merespons kondisi darurat,” ujarnya.

Rangkaian pengesahan juga diisi simulasi penanggulangan bencana yang melibatkan BPBD Kabupaten Luwu, anggota Destana, Palang Merah Indonesia (PMI), serta Emergency Response Team (ERT) MDA.

Pemkab Luwu menyebut pengesahan 10 Destana tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pemerintah desa, relawan, dan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *