LiteX.co.id, Nasional – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat sepanjang Senin (24/08/2026).
Gunung api yang berada di wilayah Lampung Selatan itu tercatat mengalami sedikitnya 11 kali erupsi sejak pagi hingga sore, dengan kolom abu tertinggi mencapai sekitar 400 meter di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pukul 09.41 WIB.
Berdasarkan keterangan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kolom abu saat itu teramati setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut.
Letusan tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 52 milimeter dan berlangsung selama sekitar satu menit 17 detik.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan yang dikutip ANTARA.
Aktivitas vulkanik tidak berhenti pada erupsi pertama.
Hanya berselang dua menit, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada pukul 09.43 WIB dengan kolom abu sekitar 250 meter.
Erupsi kemudian berlanjut pada pukul 10.11 WIB, 10.24 WIB, 10.48 WIB, 11.22 WIB, dan 11.54 WIB.
Hingga menjelang siang, sedikitnya tujuh erupsi telah tercatat.
Berdasarkan laporan petugas pengamatan gunung api Deny Mardiono, erupsi terjadi pukul 15.24 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak.
Dua erupsi berikutnya tercatat pukul 16.43 WIB dan 16.46 WIB dengan kolom abu sekitar 300 meter.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada pukul 17.09 WIB dengan kolom abu mencapai 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut.
Dengan rangkaian tersebut, sedikitnya 11 erupsi tercatat sepanjang hari.
Pada erupsi sore hari, kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal.
Arah abu berbeda dibanding erupsi pertama pada pagi hari, yakni bergerak ke utara dan timur laut.
Pemantauan terbaru Pos Pantau Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan aktivitas kegempaan masih tinggi.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Suwarno mengatakan, dalam periode enam jam hingga petang tercatat empat kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 58 hingga 67 milimeter dan durasi 30 hingga 54 detik.
Selain gempa letusan, petugas mencatat 100 kali gempa hembusan, lima kali gempa harmonik, dua gempa frekuensi rendah, 25 gempa hybrid atau fase banyak, serta satu gempa tremor menerus dalam periode pemantauan tersebut.
Pengamatan visual memperlihatkan asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mencapai sekitar 100 hingga 400 meter dari puncak.
Arah angin terpantau berubah-ubah ke utara, timur laut, barat, dan barat laut.
Badan Geologi hingga Senin malam masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Status tersebut sebelumnya dinaikkan dari Level II atau Waspada setelah peningkatan aktivitas vulkanik yang terpantau sejak awal Juli.
Seiring aktivitas yang masih tinggi, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Larangan tersebut juga berlaku bagi nelayan yang beraktivitas di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau untuk menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material vulkanik.
Masyarakat diminta terus mengikuti informasi resmi Badan Geologi dan PVMBG serta tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.






