Don't Show Again Yes, I would!

Gempa M 7,1 Hantam Jepang Selatan, Belasan Orang Tewas

Gempa magnitudo 7,1 mengguncang Kumamoto, Jepang, menewaskan 13 orang dan merusak infrastruktur. Pemerintah kerahkan tim penyelamat, WNI dipastikan aman.

Ilustrasi (Unsplash)

LiteX.co.id, Internasional – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, mengakibatkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia.

Bencana yang terjadi pada Selasa (28/07/2026) sekitar pukul 16.27 waktu setempat itu juga menyebabkan bangunan runtuh, kebakaran, kerusakan jalan dan jembatan, serta gangguan pada jaringan listrik dan transportasi.

Pusat gempa berada di wilayah Kumamoto dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Guncangan mencapai intensitas maksimum 7 dalam skala seismik Jepang di wilayah Hikawa dan Uki, serta dirasakan kuat di berbagai kawasan Pulau Kyushu.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan pemerintah menempatkan proses penyelamatan sebagai agenda utama dalam penanganan bencana.

“Pemerintah akan mengerahkan seluruh kemampuan dalam langkah darurat, dengan menempatkan penyelamatan jiwa dan operasi pertolongan sebagai prioritas tertinggi,” ujar Takaichi seperti dikutip dari situs resmi Kantor Perdana Menteri Jepang.

Takaichi telah memerintahkan seluruh kementerian dan lembaga terkait segera mendata dampak bencana, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta memberikan informasi evakuasi secara cepat dan akurat kepada masyarakat.

Ia juga meminta warga tidak bertahan di bangunan yang rusak dan segera mencari lokasi perlindungan.

“Saya meminta seluruh warga segera mengambil tindakan untuk melindungi diri, termasuk mengungsi ke tempat yang aman,” lanjutnya.

Pemerintah Jepang turut mengirimkan tim investigasi Kantor Kabinet ke wilayah terdampak.

Polisi, petugas pemadam kebakaran, tenaga medis, serta Pasukan Bela Diri Jepang dikerahkan untuk mencari korban yang masih tertimbun.

Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan berat adalah Aeon Mall di Kashima, Kumamoto.

Ledakan besar terjadi setelah guncangan utama dan menghancurkan sebagian struktur pusat perbelanjaan tersebut.

Dugaan awal mengarah pada kebocoran gas.

Namun, penyebab pasti ledakan masih diperiksa oleh otoritas Jepang.

Pengunjung dan sebagian besar pekerja dilaporkan telah dievakuasi setelah gempa.

Meski demikian, masih terdapat karyawan di dalam kompleks ketika ledakan terjadi.

Tim penyelamat berhasil mengevakuasi delapan orang dari reruntuhan mal.

Tiga di antaranya kemudian dilaporkan meninggal dunia, sedangkan sejumlah orang mengalami luka dan beberapa pekerja masih belum ditemukan.

Ledakan tersebut merobek salah satu sisi bangunan dan membuat rangka baja terbuka.

Puing material juga berserakan hingga kawasan parkir.

Proses pencarian dilakukan dengan hati-hati karena kondisi struktur bangunan belum stabil dan gempa susulan masih terjadi.

Petugas juga melakukan operasi pencarian di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro setelah sebagian cerobong dan bangunan fasilitas tersebut runtuh.

Sejumlah pekerja sempat dilaporkan terjebak atau belum diketahui keberadaannya.

Tim penyelamat terus menyisir area sambil mengantisipasi kemungkinan runtuhan susulan.

Rumah sakit di sekitar pusat gempa menerima puluhan korban luka.

Beberapa korban dilaporkan berada dalam kondisi serius, sementara fasilitas kesehatan di kawasan terdampak menghadapi peningkatan jumlah pasien.

Pendataan korban masih berlangsung sehingga jumlah warga meninggal, terluka, maupun hilang masih dapat berubah.

Lebih dari 260.000 warga sempat diminta meninggalkan rumah dan menuju lokasi aman akibat ancaman gempa susulan, kerusakan bangunan, kebakaran, dan tanah longsor.

Pada Rabu (29/07/2026), lebih dari 9.000 orang dilaporkan masih berada di ratusan pusat evakuasi yang tersebar di Kumamoto dan beberapa prefektur sekitarnya.

Gempa juga memutus aliran listrik ke puluhan ribu rumah.

Ribuan pelanggan lainnya mengalami gangguan pasokan gas dan komunikasi.

Kerusakan infrastruktur terlihat pada sejumlah ruas jalan yang retak, jembatan yang runtuh, serta bangunan rumah dan fasilitas umum yang rusak.

Pemerintah menyalurkan makanan, air minum, dan kebutuhan darurat kepada warga di pengungsian.

Fasilitas pendingin juga dibutuhkan karena suhu udara di wilayah tersebut berada dalam kondisi panas.

Operasional kereta cepat Shinkansen dan sejumlah kereta lokal sempat dihentikan untuk pemeriksaan jalur.

Bandara Kumamoto juga menutup landasan sehingga sejumlah penerbangan dibatalkan, ditunda, atau dialihkan ke bandara lain.

Gempa turut mengganggu aktivitas industri di Kyushu.

Perusahaan seperti Sony, Honda, Toyota, TSMC, Renesas Electronics, dan sejumlah produsen lainnya menghentikan sementara operasional untuk memeriksa keamanan fasilitas dan memastikan keselamatan pekerja.

Sebagian perusahaan mulai memulihkan operasional secara bertahap setelah pemeriksaan awal tidak menemukan kerusakan besar.

Namun, sejumlah pabrik masih menghentikan kegiatan karena persoalan keselamatan dan gangguan logistik.

Otoritas Regulasi Nuklir Jepang memastikan tidak ditemukan gangguan pada pembangkit listrik tenaga nuklir yang berada di sekitar wilayah terdampak.

Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah Laut Ariake dan Yatsushiro setelah gempa terjadi.

Peringatan tersebut kemudian dicabut dalam waktu kurang dari dua jam setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi ancaman gelombang besar.

Meski demikian, warga diminta tetap berhati-hati terhadap gempa susulan yang berpotensi terjadi dalam sepekan setelah guncangan utama.

Masyarakat juga diingatkan menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan, kawasan rawan longsor, serta lokasi yang telah dipasangi pembatas keamanan.

Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Tokyo terus berkoordinasi dengan komunitas warga negara Indonesia di Kumamoto dan wilayah Kyushu.

Berdasarkan pemantauan sementara, belum terdapat laporan mengenai WNI yang menjadi korban atau terdampak langsung.

Warga Indonesia yang berhasil dihubungi dilaporkan berada dalam kondisi aman.

KBRI Tokyo mengimbau WNI tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi dan instruksi resmi dari pemerintah Jepang maupun Japan Meteorological Agency.

WNI juga diminta menjauhi bangunan rusak, menyiapkan kebutuhan darurat, dan mengikuti perintah evakuasi apabila sewaktu-waktu dikeluarkan oleh otoritas setempat.

Dalam kondisi darurat, WNI dapat menghubungi KBRI Tokyo melalui nomor +81-80-3506-8612 atau +81-80-4940-7419.

Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri dapat dihubungi melalui +62-812-9007-0027.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *