Don't Show Again Yes, I would!

Hubungan AS dan Israel Retak Akibat Invasi Lebanon, Trump Marah Besar ke Netanyahu

Hubungan AS dan Israel retak akibat invasi Lebanon. Donald Trump murka pada Benjamin Netanyahu, sementara Ustaz Felix Siauw menyebutnya sebagai gempa geopolitik.

Foto: Youtube Felix Siauw

LiteX.co.id, Internasional – Sebuah pergeseran tektonik dalam lanskap geopolitik dunia kini sedang terjadi di depan mata, ditandai dengan keretakan hubungan yang semakin nyata antara Amerika Serikat dan Israel.

Konflik ini mencapai titik didih ketika Presiden AS Donald Trump melontarkan kemarahannya secara terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait invasi di Lebanon.

Fenomena perselisihan dua sekutu erat ini turut menyorot perhatian pendakwah Ustaz Felix Siauw, yang menilai situasi ini sebagai sebuah “gempa geopolitik” dan titik balik terbesar yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.

Puncak ketegangan di antara kedua pemimpin tersebut meledak dalam sebuah percakapan telepon pada Senin (01/06/2026).

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Trump sangat murka lantaran operasi militer Israel yang menyasar milisi Hizbullah di wilayah Lebanon dinilai mengacaukan negosiasi dan diplomasi Washington dengan Teheran.

“Anda benar-benar gila. Apa yang Anda lakukan?” umpat Trump kepada Netanyahu kala itu, menyoroti rasa frustrasinya terhadap manuver Tel Aviv yang dianggap merusak upaya gencatan senjata regional yang sangat rapuh.

Trump sebelumnya telah berupaya meredakan konflik dengan mengklaim bahwa Hizbullah setuju untuk menghentikan tembakan, asalkan Israel tidak melakukan serangan lanjutan ke Beirut.

Meski telah mendapat teguran keras, diingatkan akan bantuan politik yang selama ini diberikan AS, serta diancam oleh pihak Iran, Netanyahu tampak tidak gentar dan memilih untuk membangkang.

Pemimpin Israel tersebut bersikeras bahwa pasukannya akan terus melanjutkan gempuran ke wilayah Lebanon selatan sesuai rencana.

“Jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga negara kami, Israel akan menyerang target-target teror di Beirut. Posisi kami tetap tidak berubah,” tegas Netanyahu, yang keputusannya ini berimbas pada ditangguhkannya dialog antara Iran dan pihak mediator, seperti dikutip dari Detik.

Menanggapi dinamika politik yang memanas ini, Ustaz Felix Siauw memberikan pandangan analitisnya bahwa keributan ini membuktikan ketidakberdayaan kedua negara tersebut setelah mengalami kekalahan telak.

Menurutnya, perseteruan terbuka ini berakar dari kegagalan operasi militer gabungan AS-Israel untuk menundukkan Iran, yang awalnya diklaim sebagai kekuatan militer terhebat namun justru berujung pada kegagalan fatal.

Kegagalan tersebut memaksa pemerintah Trump untuk segera mencari jalan keluar atau exit strategy, termasuk keharusan menanggung beban kompensasi finansial yang sangat besar.

“Pas dia lagi mau exit strategy, dia lagi negosiasi sama Iran supaya nggak hilang muka, ini Israel malah terus kemudian nyerang Lebanon parah. Karena Netanyahu pengen project-nya sendiri itu jalan,” ungkap Ustaz Felix Siauw.

Lebih jauh, Ustaz Felix menyoroti bahwa perpecahan di level elite ini sejalan dengan perubahan drastis pada opini publik global.

Ia memaparkan data bahwa dukungan masyarakat Amerika—khususnya dari kalangan Generasi Z—terhadap tindakan Israel telah merosot sangat tajam, dan untuk pertama kalinya lebih banyak warga AS yang bersimpati pada perjuangan Palestina.

“Ini adalah kejadian yang termasuk semacam gempa geopolitik. Topeng-topeng yang selama ini mereka jadikan fabrikasi terhadap realitas yang nggak pernah ada, itu semua sudah dibuka sama Allah. Posisinya sekarang opini terhadap mereka benar-benar buruk dan pergerakannya turun secara irreversible,” tambah Ustaz Felix, meyakini bahwa hilangnya kendali narasi Zionis ini adalah momentum besar yang harus terus didorong demi kemerdekaan Palestina.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *