LiteX.co.id, Nasional – Musim kemarau semakin meluas di Indonesia bersamaan dengan menguatnya fenomena El Niño yang berpotensi memperparah kondisi kering di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan pemantauan Dasarian II Juli 2026.
Wilayah yang telah memasuki musim kemarau tersebar di sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sebagian wilayah Sulawesi Tengah juga telah berada dalam periode kemarau.
Kondisi kering terlihat dari curah hujan kategori rendah yang mencakup 92,93 persen wilayah Indonesia.
Sementara itu, sebanyak 89,97 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.
BMKG menyatakan El Niño telah memasuki kategori kuat.
Nilai indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index berada pada angka -28,2.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia selama puncak musim kemarau.
Dikutip dari situs resmi BMKG, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan dampak terbesar perlu diwaspadai ketika El Niño berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Niño, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau,” kata Faisal.
Menurutnya, wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
Curah hujan di wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal selama periode Juli hingga Oktober 2026.
El Niño juga berpotensi mengganggu ketersediaan air, produksi pangan, kualitas udara, dan kesehatan masyarakat.
Di sektor pertanian, defisit air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan risiko gagal panen.
Ribuan Titik Panas Terdeteksi
Dampak kondisi kering mulai terlihat dari meningkatnya jumlah titik panas di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan citra satelit pada Rabu (29/07/2026), BMKG mendeteksi 1.729 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Selain itu, terdapat 117 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sebanyak 85 titik ditemukan di Papua dan Maluku, 25 titik di Kalimantan, empat titik di Sulawesi, serta tiga titik di Nusa Tenggara.
BMKG menegaskan keberadaan titik panas menunjukkan peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Namun, verifikasi lapangan tetap diperlukan karena titik panas tidak selalu menunjukkan kebakaran yang sedang berlangsung.
Pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia.
Sisanya, sekitar 8,57 persen, diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah.
Tidak ada wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi dalam periode tersebut.
Karhutla Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 42 kejadian bencana dalam periode pemantauan Kamis hingga Jumat (30–31/07/2026).
Sebanyak 36 kejadian di antaranya menimbulkan dampak signifikan.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari situs resmi BNPB, kejadian bencana pada penghujung Juli didominasi kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.
Karhutla antara lain terjadi di Kabupaten Aceh Besar dengan luas lahan terdampak sekitar 20 hektare.
Kebakaran juga terjadi di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Lahan yang terdampak diperkirakan mencapai tiga hektare dan petugas masih melakukan pemadaman terhadap bara yang tersisa pada batang pohon di area tebing.
Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Gorontalo berdampak terhadap 1.060 kepala keluarga atau 2.194 jiwa.
Kondisi serupa di Kabupaten Bone Bolango berdampak kepada 453 kepala keluarga atau 1.192 jiwa.
BNPB meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Pemerintah daerah diminta memperkuat patroli terpadu, deteksi dini titik panas, penyediaan sumber air untuk pemadaman, serta distribusi air bersih ke wilayah yang mulai mengalami kekeringan.
Hujan Lokal Masih Bisa Terjadi
Meski musim kemarau semakin dominan, BMKG mengingatkan hujan masih dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer.
Untuk periode Jumat hingga Senin (31/07–03/08/2026), hujan intensitas sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Utara, dan Papua Pegunungan.
Masyarakat dan pemerintah daerah diminta menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta memantau informasi dan peringatan dini resmi BMKG.






