Don't Show Again Yes, I would!

Paris Mencekam, Demonstrasi Massal Berujung Penjarahan dan Pembakaran Kendaraan

Prancis dilanda kerusuhan besar yang menyebabkan ribuan orang ditangkap dan ratusan toko dijarah. Presiden Macron mengecam keras aksi kekerasan tersebut.

Foto: Jorge Jaramillo/JJxFile.com via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

LiteX.co.id, Internasional – Gelombang demonstrasi besar-besaran di Prancis berujung kerusuhan, penjarahan pertokoan, dan pembakaran sejumlah fasilitas publik.

Hampir 2.400 orang ditangkap setelah bentrokan meluas di sejumlah kota sejak Sabtu (17/10/2026).

Kerusuhan terjadi di ibu kota Paris serta sejumlah kota lain, termasuk Marseille, Bordeaux, Lille, Lyon, dan Limoges.

Kelompok perusuh merusak etalase pertokoan, menjarah barang dagangan, membakar kendaraan, serta menyerang bangunan pemerintah.

Berdasarkan laporan AFP pada Senin (19/10/2026), Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hampir 1.000 personel kepolisian dan gendarmerie mengalami luka-luka, tujuh di antaranya luka serius.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan aparat terus menyelidiki para pelaku perusakan dan penjarahan untuk membawa mereka ke proses hukum.

Dalam pernyataan melalui platform X yang dikutip AFP, Nuñez mengatakan penyelidikan dilakukan untuk mengidentifikasi para pelaku agar mereka dapat dibawa ke pengadilan.

Penjarahan menjadi salah satu dampak paling mencolok dari demonstrasi yang berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup dan kualitas pelayanan publik.

Sejumlah kelompok bertopeng menyerang toko pakaian, supermarket, gerai elektronik, hingga butik barang mewah.

Di Paris, kaca etalase sejumlah toko pecah dan barang dagangan dijarah.

Kendaraan yang hangus terbakar serta puing-puing berserakan di sejumlah ruas jalan.

Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire mengecam keras tindakan kekerasan yang merugikan pedagang dan membahayakan keselamatan masyarakat.

Melalui pernyataan resmi Pemerintah Kota Paris pada Sabtu (17/10/2026), Grégoire menegaskan bahwa aksi demonstrasi tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan perusakan.

“Tidak ada, sama sekali tidak ada, yang dapat membenarkan tindakan membahayakan nyawa, merusak toko, atau menghancurkan fasilitas publik,” kata Grégoire dalam pernyataan resminya yang diterjemahkan dari bahasa Prancis.

Ia juga menyampaikan solidaritas kepada warga Paris, terutama para pemilik toko dan pekerja yang terdampak kerusuhan.

Menurutnya, tindakan kekerasan justru mengalihkan perhatian dari aspirasi masyarakat, termasuk tuntutan generasi muda terkait pendidikan dan kondisi ekonomi.

Pemerintah Kota Paris menekankan bahwa perbuatan kelompok perusuh tidak boleh disamakan dengan mayoritas demonstran yang menyampaikan tuntutan secara damai.

Selain pertokoan, sejumlah bangunan pemerintah menjadi sasaran perusakan.

Di Kota Limoges, gedung balai kota bersejarah dari abad ke-19 mengalami kebakaran hebat yang menurut otoritas setempat merupakan tindakan pembakaran secara sengaja.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum di sejumlah kota ketika kelompok perusuh bentrok dengan aparat keamanan.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi kelompok yang melemparkan benda keras serta menyerang petugas.

Federasi perdagangan dan ritel Prancis memperkirakan sekitar 1.500 tempat usaha mengalami kerusakan dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta euro.

Perusahaan ritel Carrefour juga melaporkan 50 gerainya mengalami kerusakan, termasuk 20 toko yang dijarah.

Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure menyatakan pemerintah akan membantu pelaku usaha yang mengalami kerugian.

Ia juga menyebut para pelaku perusakan harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka.

Demonstrasi besar tersebut berlangsung setelah berminggu-minggu aksi pelajar yang memprotes kekurangan tenaga pengajar dan kondisi fasilitas pendidikan.

Gerakan tersebut kemudian meluas dengan bergabungnya serikat buruh, mahasiswa, kelompok Rompi Kuning atau Yellow Vests, serta masyarakat yang mempersoalkan kenaikan biaya hidup dan kualitas pelayanan publik.

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah.

Sementara itu, serikat buruh CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Meski diikuti ratusan ribu orang, sebagian besar demonstrasi berlangsung secara damai.

Kerusuhan terjadi ketika kelompok tertentu melakukan penjarahan, pembakaran, dan penyerangan terhadap aparat.

Seorang peserta demonstrasi dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami henti jantung saat aksi di Paris.

Namun, otoritas setempat tidak mengaitkan kematian tersebut secara langsung dengan kekerasan dalam demonstrasi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengecam aksi kekerasan yang menyebabkan kerusakan besar di berbagai kota.

Dalam pidato yang disampaikan pada Minggu (18/10/2026), Macron menyebut kerusuhan tersebut menimbulkan kemarahan dan rasa malu.

“Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu,” kata Macron, sebagaimana dikutip Reuters.

Macron menekankan pentingnya membedakan masyarakat yang menyampaikan tuntutan secara damai dengan kelompok yang melakukan penjarahan dan perusakan.

Pemerintah Prancis menyatakan akan memperketat pengamanan, termasuk memberi kewenangan kepada otoritas setempat untuk membatasi kegiatan tertentu apabila diperlukan guna melindungi fasilitas umum dan tempat usaha.

Meski demikian, Macron tidak mengumumkan pemberlakuan keadaan darurat nasional.

Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kerusuhan.

Pemerintah Kota Paris juga telah mengerahkan petugas kebersihan dan layanan terkait untuk membersihkan puing-puing, mengamankan fasilitas yang rusak, serta membantu para pedagang yang terdampak.

Upaya pemulihan dilakukan bersamaan dengan penanganan hukum terhadap para pelaku perusakan dan penjarahan di sejumlah wilayah Prancis.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *