Don't Show Again Yes, I would!

Demo PDAM Palopo Ricuh, Mahasiswa Tuntut Kompensasi Pelanggan

Aksi demo mahasiswa menuntut kompensasi air bersih di kantor Perumda Tirta Mangkaluku Palopo berakhir ricuh dengan dugaan penganiayaan terhadap peserta aksi.

LiteX.co.id, Palopo – Aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut kompensasi bagi pelanggan Perumda Tirta Mangkaluku (TM) Kota Palopo akibat gangguan distribusi air bersih berakhir ricuh.

Sejumlah mahasiswa diduga menjadi korban penganiayaan saat menyampaikan aspirasi di depan kantor perusahaan daerah tersebut, Senin (02/11/2026).

Kericuhan terjadi di depan Kantor Perumda TM, Jalan Pongsimpin, Kelurahan Murante, Kecamatan Mungkajang, sekitar pukul 11.00 WITA.

Massa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya datang membawa dua tuntutan utama, yakni evaluasi terhadap jajaran direksi Perumda TM dan pemberian kompensasi kepada pelanggan yang terdampak gangguan pelayanan air bersih.

Ketua GAM Luwu Raya, Ahmad Hanifullah, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kondisi pelayanan air bersih di Kota Palopo yang dinilai belum berjalan optimal.

Mahasiswa menilai pelanggan yang mengalami gangguan distribusi air perlu mendapatkan kompensasi, mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam aksinya, mahasiswa menggelar orasi secara bergantian sambil melakukan aksi teatrikal menggunakan ember dan timba sebagai simbol kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih.

Namun, situasi mulai memanas ketika seorang pegawai Perumda TM diduga mendatangi massa dan menendang ember yang digunakan dalam aksi teatrikal tersebut.

Ahmad menyebut insiden itu terjadi ketika baru sekitar tiga orang orator menyampaikan aspirasi mereka.

Meski sempat terjadi ketegangan, mahasiswa tetap melanjutkan demonstrasi dengan membakar ban bekas di sekitar pintu gerbang kantor.

Tidak lama kemudian, sejumlah pegawai Perumda TM keluar menemui massa.

Situasi semakin memanas hingga terjadi aksi saling dorong dan dugaan pemukulan terhadap peserta demonstrasi.

Menurut Ahmad, sekitar 10 mahasiswa mengalami kekerasan fisik dalam kericuhan tersebut.

Beberapa di antaranya disebut mengalami memar pada wajah hingga bekas cakaran di bagian leher.

Rekaman video yang beredar juga memperlihatkan keributan antara sejumlah orang yang mengenakan seragam pegawai Perumda TM dan mahasiswa di depan kantor perusahaan.

Dalam rekaman yang diberitakan sejumlah media, terlihat beberapa orang melakukan pemukulan dan tendangan terhadap peserta aksi.

Namun, identitas serta peran setiap orang yang terlibat masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Pihak GAM Luwu Raya menyatakan telah melakukan pemeriksaan medis berupa visum terhadap mahasiswa yang diduga mengalami kekerasan.

Mereka juga berencana membawa persoalan tersebut ke ranah hukum melalui Polres Palopo.

Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku Palopo, Steven Hamdani, turut memberikan penjelasan terkait demonstrasi yang berakhir ricuh tersebut.

Steven menyayangkan aksi pembakaran ban bekas di depan kantor perusahaan karena dinilai mengganggu aktivitas pelayanan kepada masyarakat, terutama distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

Menurutnya, asap pembakaran ban mengganggu pelayanan administrasi pelanggan.

Sementara itu, kobaran api dinilai berpotensi membahayakan kendaraan operasional perusahaan maupun pengguna jalan.

Steven menjelaskan bahwa pihak manajemen sebenarnya telah menyiapkan jadwal untuk menerima demonstrasi sesuai surat pemberitahuan yang diterima perusahaan.

Perumda TM bahkan telah berkoordinasi dengan tim satuan tugas untuk menghentikan sementara pelayanan pada pukul 14.00 WITA.

Namun, massa mahasiswa disebut datang lebih awal dari jadwal tersebut.

“Pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat sudah kami atur jadwalnya. Kami juga telah berkoordinasi dengan Satgas PDAM untuk menghentikan sementara pelayanan pukul 14.00 Wita guna menerima aksi unjuk rasa. Namun, massa justru datang dan melakukan aksi sekitar pukul 11.00 Wita,” kata Steven, Senin (02/11/2026).

Ia menjelaskan, pegawai perusahaan bersama anggota TNI yang berada di lokasi sempat meminta massa memadamkan api agar mobil tangki dapat keluar untuk mendistribusikan air bersih kepada warga.

Menurut versi Steven, ketegangan meningkat ketika satu unit mobil tangki hendak meninggalkan kantor dan sejumlah demonstran diduga berusaha menghalangi kendaraan tersebut.

Petugas keamanan perusahaan yang berusaha mengatasi situasi juga disebut mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari peserta aksi.

Kondisi itu kemudian berujung perselisihan antara sejumlah pegawai dan mahasiswa.

Steven menyayangkan insiden tersebut, terlebih masyarakat Palopo masih membutuhkan pasokan air bersih di tengah kondisi kemarau.

“Kami sangat menyayangkan kejadian tersebut. Kami berharap semua pihak dapat menahan diri. Kami memahami bahwa air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat,” ujarnya.

Meski telah memberikan penjelasan mengenai kronologi kericuhan, keterangan Steven yang dipublikasikan belum secara khusus menjawab dugaan pemukulan terhadap mahasiswa.

Sementara itu, tuntutan kompensasi bagi pelanggan yang terdampak gangguan distribusi air bersih juga belum mendapatkan kepastian penyelesaian dalam keterangan yang tersedia.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *