Don't Show Again Yes, I would!

Demo Mahasiswa Berujung Ricuh, Dirut PDAM Palopo Berikan Klarifikasi

Aksi demonstrasi mahasiswa di kantor Perumda TM Palopo berujung ricuh. Pihak perusahaan menyebut aksi tersebut menghambat distribusi air bersih bagi warga.

Foto: unsplash

LiteX.co.id, Palopo – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mangkaluku (TM) Kota Palopo memberikan klarifikasi terkait aksi demonstrasi mahasiswa yang berujung ricuh di depan kantor perusahaan, Senin (02/11/2026).

Direktur Utama Perumda TM Palopo, Steven Hamdani, menyayangkan kericuhan tersebut.

Menurut pihak perusahaan, aksi yang diwarnai pembakaran ban bekas itu sempat menghambat distribusi air bersih kepada masyarakat menggunakan mobil tangki.

Dalam siaran pers resminya, Perumda TM menjelaskan bahwa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aksi Mahasiswa (GAM) menggelar demonstrasi terkait krisis air bersih di Kota Palopo.

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 11.00 WITA, lebih awal dari jadwal yang tercantum dalam surat pemberitahuan yang diterima perusahaan, yakni pukul 14.00 WITA.

Menurut pihak Perumda TM, massa tidak hanya menyampaikan orasi, tetapi juga membakar ban bekas tepat di depan pintu gerbang kantor.

Pembakaran ban tersebut disebut menghambat akses keluar masuk mobil tangki yang digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada warga.

Selain mengganggu distribusi, asap dari pembakaran ban juga dinilai mengganggu pelayanan administrasi masyarakat yang sedang berada di area kantor perusahaan.

Pihak Perumda TM menyebut sejumlah warga dan pegawai bersama anggota TNI sempat meminta massa memadamkan api agar kendaraan operasional dapat kembali melayani kebutuhan air bersih masyarakat.

Namun, menurut keterangan perusahaan, permintaan tersebut tidak mendapat tanggapan dari massa aksi.

Perumda TM menjelaskan bahwa pihaknya sebelumnya telah mengatur jadwal distribusi air bersih dan berkoordinasi dengan tim satuan tugas untuk menghentikan sementara pelayanan pada pukul 14.00 WITA guna menerima demonstrasi.

Akan tetapi, massa disebut telah memulai aksi sekitar tiga jam lebih awal dari jadwal tersebut.

Pihak perusahaan juga menilai api dari pembakaran ban berpotensi membahayakan armada operasional maupun kendaraan masyarakat yang keluar masuk area kantor.

Ketegangan kemudian meningkat ketika satu unit mobil tangki hendak meninggalkan kantor.

Menurut versi Perumda TM, sejumlah demonstran berusaha menghalangi kendaraan tersebut.

Seorang petugas keamanan perusahaan yang mencoba menangani situasi juga disebut mendapat perlakuan tidak pantas dari peserta aksi.

Tidak lama kemudian, sejumlah pegawai Perumda TM dan warga terlibat ketegangan dengan massa demonstran hingga berujung kericuhan.

Pihak perusahaan menyebut bentrokan dipicu kekesalan sejumlah warga terhadap aksi yang dinilai mengganggu distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

Menanggapi peristiwa tersebut, Steven Hamdani berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan memahami kondisi pelayanan air bersih yang saat ini menghadapi keterbatasan akibat kemarau berkepanjangan.

“Kami sangat menyayangkan kejadian yang terjadi tersebut, kami berharap semua dapat menahan diri. Kami mengerti bahwa kebutuhan air bersih menjadi kebutuhan yang utama bagi masyarakat,” ujar Steven dalam siaran pers Perumda TM.

Steven mengakui bahwa distribusi air bersih kepada pelanggan melalui jaringan perpipaan saat ini belum berjalan maksimal.

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan penurunan debit sumber air secara drastis akibat kemarau panjang yang berdampak pada kemampuan produksi sejumlah instalasi pengolahan air minum.

“Kami menyadari bahwa mungkin distribusi air belum sempurna ke masyarakat akibat debit air yang memang menurun drastis, tetapi upaya maksimal yang memang bisa kami lakukan, kami lakukan secara terus menerus,” katanya.

Perumda TM menjelaskan bahwa gangguan distribusi air bersih telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir akibat menurunnya produksi air pada sejumlah instalasi pengolahan air minum (IPAM).

Dari lima IPAM yang dimiliki perusahaan, beberapa instalasi mengalami penurunan produksi sekitar 65 hingga 80 persen.

Berdasarkan data yang disampaikan Perumda TM, produksi air bersih di IPAM Latuppa menurun sekitar 70 persen.

Sementara itu, IPAM Mangkaluku mengalami penurunan produksi sekitar 80 persen sehingga operasionalnya harus dibantu dengan sistem pompanisasi.

Adapun produksi IPAM Magandang mengalami penurunan sekitar 65 persen.

Untuk IPAM Bambalu, penurunan produksi disebut tidak terlalu drastis.

Namun, instalasi tersebut harus menanggung tambahan beban pelayanan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah lain.

Kondisi serupa juga terjadi pada IPAM Batupapan yang turut membantu pelayanan distribusi air bersih.

Dengan keterbatasan produksi tersebut, Perumda TM harus mengandalkan mobil tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang tidak dapat terlayani secara maksimal melalui jaringan perpipaan.

Steven menjelaskan bahwa perusahaan tidak mungkin sengaja menahan distribusi air apabila ketersediaan air baku dan kemampuan produksi mencukupi.

Ia menyebut tugas utama Perumda TM adalah mengolah dan menyalurkan air bersih kepada masyarakat.

Terkait usulan pemanfaatan sumber air alternatif, seperti air laut dan air tanah, Steven mengatakan pihaknya telah melakukan kajian dengan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan masing-masing sumber.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemanfaatan air permukaan masih menjadi pilihan yang dinilai paling realistis dan telah diterapkan selama bertahun-tahun.

Steven juga menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat, termasuk mahasiswa yang menyampaikan aspirasi mengenai pelayanan air bersih.

Namun, ia berharap penyampaian aspirasi tidak sampai menghambat pelayanan kepada masyarakat yang masih membutuhkan pasokan air.

“Kami dari PDAM bukan pihak yang anti kritik, justru masukan yang positif dan membangun tanpa adanya kepentingan lainnya, menjadi cambuk bagi kami untuk terus berbenah. Tetapi kami berharap distribusi air bersih ke masyarakat tidak terganggu, karena yang rugi juga adalah masyarakat kita, bila pelayanan terhenti,” ujarnya.

Steven menambahkan bahwa sejumlah pegawai Perumda TM bahkan harus menjalankan pelayanan selama 24 jam untuk memenuhi permintaan air bersih masyarakat.

Menurutnya, petugas tetap bekerja hingga dini hari untuk memastikan distribusi air bersih dapat menjangkau warga di tengah keterbatasan produksi.

Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi yang sedang dihadapi perusahaan sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menjalankan pelayanan.

Perumda TM menyatakan akan terus berupaya memaksimalkan distribusi air bersih meskipun kemampuan produksi sejumlah IPAM belum kembali normal.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *