LiteX.co.id, Sulawesi Selatan – Fenomena El Niño yang telah mencapai kategori kuat berpotensi memperkuat kondisi kering di wilayah Luwu Raya sepanjang Agustus 2026.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan mencakup Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Keempat daerah tersebut masuk dalam daftar wilayah Sulawesi Selatan yang diprediksi mengalami curah hujan rendah pada Agustus.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat kondisi El Niño kuat berdasarkan pemantauan atmosfer pada dasarian III Juli 2026.
Nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 secara dasarian tercatat sebesar positif 2,45 derajat Celsius, sedangkan nilai bulanannya mencapai positif 2,19 derajat Celsius.
Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau terasa lebih kering dan berlangsung lebih panjang, terutama ketika pengaruh El Niño bertepatan dengan puncak musim kemarau.
Dalam prediksi curah hujan bulanan, BMKG memperkirakan Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo akan didominasi curah hujan kategori rendah atau berkisar 0 hingga 100 milimeter selama Agustus 2026.
Situasi diperkirakan semakin terasa pada dasarian II Agustus atau periode 11 hingga 20 Agustus 2026.
BMKG memprediksi sifat hujan di empat wilayah Luwu Raya berada pada kategori bawah normal, yakni kurang dari 85 persen dibandingkan rata-rata curah hujan selama 30 tahun.
Prediksi curah hujan rendah tidak berarti hujan sama sekali tidak akan turun.
Hujan lokal masih dapat terjadi, tetapi akumulasi dan frekuensinya diperkirakan lebih rendah dibandingkan kondisi normal.
Prakiraan cuaca BMKG untuk periode Rabu (05/08/2026) hingga Jumat (14/08/2026) juga menunjukkan kondisi di sebagian besar wilayah Luwu Raya didominasi cuaca cerah, cerah berawan, dan berawan.
Suhu maksimum di sejumlah wilayah diperkirakan mencapai sekitar 30 hingga 31 derajat Celsius.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan El Niño bukan musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang dapat memperkuat dampak musim kemarau ketika keduanya berlangsung bersamaan.
“El Niño merupakan tantangan yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan nasional. Membangun ketahanan menghadapi El Niño memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor yang didukung oleh informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Faisal dalam Dialog Nasional Bappenas dan BMKG, Selasa (04/08/2026).
Menurut BMKG, El Niño kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya persediaan air, terganggunya produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, serta persoalan kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kondisi paling kering diperkirakan terjadi sepanjang Agustus hingga September 2026.
Di Luwu Raya, kondisi tersebut perlu diantisipasi terutama pada kawasan pertanian yang bergantung pada curah hujan dan jaringan irigasi.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan air baku, memantau debit sungai dan sumber mata air, serta meningkatkan pengawasan terhadap lahan yang rentan terbakar.
Petani disarankan menyesuaikan kalender tanam dengan ketersediaan air, menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, serta menghindari penanaman serentak apabila kemampuan jaringan irigasi terbatas.
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Fenomena El Niño diproyeksikan bertahan hingga awal 2027, sementara dampak terkuatnya terhadap Indonesia diperkirakan terasa ketika bertemu musim kemarau hingga pertengahan Oktober 2026.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan api.
Selain berpotensi memicu kebakaran, kondisi udara yang lebih kering dapat mempercepat penyebaran api dan menurunkan kualitas udara.
Pemerintah di empat daerah Luwu Raya perlu menerjemahkan informasi iklim tersebut menjadi langkah mitigasi sejak dini, bukan menunggu kekeringan mengganggu pasokan air bersih dan kegiatan pertanian masyarakat.






