Don't Show Again Yes, I would!

Felix Siauw Kritik Pejabat dan Tokoh Agama yang Gemar Pamer Kemewahan

Felix Siauw menyoroti fenomena flexing pejabat dan tokoh publik. Ia menekankan pentingnya etika dan adab di atas kemewahan materi bagi seorang pelayan masyarakat.

LiteX.co.id, Nasional – Publik belakangan ini kerap dihebohkan dengan gaya hidup mewah atau flexing yang ditunjukkan oleh sejumlah tokoh publik dan pejabat.

Menanggapi fenomena tersebut, Felix Siauw memberikan pandangannya terkait etika kepemimpinan dan gaya hidup tokoh publik dalam tayangan video yang dibagikan pada Sabtu (18/07/2026).

Ia mengaku sangat terkejut saat mengetahui harga barang mewah para pejabat yang harganya mencapai miliaran rupiah.

“Ternyata aku baru ngerti loh, ada jam itu harganya 400 juta… Anda harus tahu bahwasanya ada jam yang harganya 1 miliar. Dan ada perhiasan-perhiasan yang kalau dipakai… ditotal itu perkiraannya sekitar hampir 3 miliar. Itu kayak rumah berjalan,” ungkapnya.

Menurut Felix Siauw, persoalan gaya hidup mewah para petinggi ini bukan sekadar tentang hukum halal atau haram, melainkan tentang etika atau adab.

Ia menganalogikan aturan tertulis sebagai standar paling minimum.

“Kalau aturan itu adalah bare minimum, maka ethics ini adalah sesuatu yang lebih tinggi daripada aturan. Jadi seseorang yang berbudaya, itu bukan dihitung daripada apakah dia menaati aturan, tapi lebih tinggi daripada itu, dia sudah masuk kepada pembahasan etis atau tidak etis,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang penguasa pada hakikatnya adalah pelayan bagi masyarakat.

Oleh karena itu, sangat tidak etis apabila seseorang yang diamanahi tugas mengurus rakyat justru hidup bergelimang kemewahan.

“Artinya dia itu sebenarnya adalah pelayan… Kalau pelayan, kalau pembantu, itu harusnya punya ethics. Salah satu ethics-nya adalah tadi, tidak bermewah-mewahan. Apalagi lebih mewah daripada yang dia urusin,” tegas Felix.

Ia juga menyayangkan jika fenomena pamer kemewahan ini merembet ke kalangan tokoh agama atau pendakwah yang seharusnya menjadi teladan kesederhanaan.

Felix membandingkan nilai miliaran rupiah dari barang mewah tersebut dengan manfaat besar yang bisa dihasilkan jika dialokasikan untuk kepentingan umat.

“Andaikan aku punya duit 3 miliar misal, aku pasti akan jadiin satu studio. Kalau nggak, belanja editor-editor. Kalau nggak, memperbarui terus-menerus barang-barang dakwah,” tambahnya.

Menutup pandangannya, Felix Siauw menyoroti pentingnya nilai isi kepala seseorang dibandingkan penampilan luarnya semata.

Ia mengutip sebuah pepatah yang menjadi pengingat baginya agar tidak terjebak pada penilaian yang hanya berdasarkan materi.

“Kalau ada orang yang tidak punya apapun di dalam isi kepalanya, maka dia akan menampakkan dengan apa yang di luar kepalanya,” tutupnya, sembari menegaskan bahwa ia lebih memilih dihargai karena pemikirannya dibanding apa yang dikenakannya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *