LiteX.co.id, LUWU — Penjabat (PJ) Kepala Desa Paccerakang Budi Nasir melakukan pergantian terhadap beberapa nama penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), Diantara warga yang digantikan tersebut seorang lansia dan seorang bapak yang sedang sakit. Senin (18/09).

Kedua warga yang sakit itu bernama Laide dan Budi Agung Danun. Diganti oleh keponakan dan sepupu PJ Kepala Desa Paccerakang yang masih sehat bugar bernama Mitra Nasir dan Petrus Gading.

Informasi yang diterima, yang bernama Mitra Nasir belum menikah dan sementara tinggal di rumah PJ Kades Paccerakang. Sedangkan salah satu syarat penerima BLT adalah sudah menikah dan berkeluarga. Sementara penggantian BLT pun harus melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus)

Saat dikonfirmasi ke PJ Kades Paccerakang, ia membenarkan ada pergantian nama penerima, menurutnya hal tersebut sudah keputusan bersama melalui rapat koordinasi yang saat itu dihadiri BPD dan Camat Ponrang Selatan. “Kalau Ketua BPD katakan tidak pernah musyawarah mungkin dia lupa, nanti saya kasi ingat, ” ungkap Budi Nasir yang ditemui di kediamannya.
Ketua BPD Leman, dikonfirmasi via telpon membenarkan adanya pergantian nama penerima BLT, “benar, sepertinya ada lima nama yang diganti bu yang tiga orang diganti itu alasan bisa ditoleransi karena terima bansos tapi yang dua orang ini kondisinya sakit dan ketergantungan obat, ” ungkap Leman
Saat disinggung soal musyawarah sebelum adanya pergantian seperti yang diungkapkan PJ Kades Paccerakang, dibantah oleh Leman. Menurutnya sama sekali tidak pernah terjadi musyawarah sebelum dilakukan pergantian, “pelanggaran sekali ini, memang pernah ada rapat tapi rapat koordinasi bukan rapat untuk pergantian nama penerima BLT, ” tegasnya.
Sekdes di Desa Paccerakang, Kornelius Weli, yang ditemui, mengatakan, “memang setahu saya tidak pernah ada musyawarah itu, memang pernah ada pertemuan tapi rapat koordinasi ji itu yang dihadiri camat, ” ungkapnya.

Berdasarkan semua informasi tersebut, Wartawan Media ini melakukan kroscek kepada warga. Pertama kali ditemui Laide (70) yang sudah tua rentah, benar saja kondisinya sedang sakit demikian dengan Budi Agung Dan untuk (60 ). Kedua, Budi Agung kondisinya lebih memprihatinkan karena tidak mampu berkomunikasi dengan baik. “Ketergantungan obat kasian, kalau habis obatnya begini kambuh lagi depresinya, sementara ada juga anaknya dua orang sekolah, na dikasi keluar kasian namanya jadi penerimaan, ” ungkap Maria ibu Budi Agung. (kartini)






