Don't Show Again Yes, I would!

BPS Catat Inflasi Nasional Juni 2026 Sebesar 3,34 Persen

BPS mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,34 persen pada Juni 2026. Kenaikan harga bensin dan transportasi menjadi pemicu utama inflasi bulanan.

Ilustrasi

LiteX.co.id, Nasional – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,34 persen secara tahunan atau year-on-year pada Juni 2026.

Angka tersebut tercatat berdasarkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026.

Data itu disampaikan BPS melalui Berita Resmi Statistik tentang Perkembangan Indeks Harga Konsumen Juni 2026 yang dirilis pada Rabu (01/07/2026).

“Pada Juni 2026, terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,34 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,89,” demikian keterangan BPS dalam laporan tersebut.

Selain inflasi tahunan, BPS mencatat inflasi secara bulanan atau month-to-month pada Juni 2026 sebesar 0,44 persen dibandingkan Mei 2026.

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date, yang dihitung dari Desember 2025 hingga Juni 2026, tercatat sebesar 1,79 persen.

Inflasi bulanan pada Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,28 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga menjelang dan selama periode libur sekolah.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Juni 2026.

Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,28 persen.

BPS mencatat kenaikan harga pada kelompok transportasi terutama dipengaruhi oleh bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.

“Penyumbang utama inflasi Juni 2026 secara bulanan adalah kelompok transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,28 persen,” tulis BPS dalam ringkasannya.

Komoditas bensin mengalami inflasi bulanan sebesar 4,53 persen dan memberikan andil sebesar 0,21 persen terhadap inflasi nasional.

Dengan demikian, bensin menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar terhadap inflasi bulanan pada Juni 2026.

Kenaikan harga bensin berkaitan dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang dilakukan sebanyak dua kali selama Juni 2026, yakni pada Senin (01/06/2026) dan Rabu (10/06/2026).

Pada penyesuaian kedua, harga Pertamax di mayoritas wilayah tercatat naik sekitar Rp4.050 atau sekitar 32 persen dibandingkan harga sebelumnya.

Harga Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan sekitar Rp4.100 menjadi Rp17.000 per liter.

Sementara itu, tarif angkutan udara mengalami inflasi sebesar 6,11 persen dan memberikan andil 0,05 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan harga tiket pesawat terjadi meskipun harga avtur pada Juni 2026 dilaporkan menurun dibandingkan Mei 2026.

Tekanan biaya operasional maskapai masih tinggi akibat harga avtur dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Komoditas pelumas atau oli mesin juga mengalami inflasi sebesar 4,89 persen dengan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi nasional.

Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mendorong inflasi bulanan.

Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dan memberikan andil sebesar 0,06 persen.

Komoditas utama yang memicu kenaikan harga dalam kelompok ini adalah bawang merah, bawang putih, dan beras.

Harga bawang merah mengalami inflasi sebesar 6,52 persen dengan andil 0,04 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah perubahan produksi bawang merah di sejumlah daerah sentra.

Produksi bawang merah dilaporkan meningkat di Brebes, Solok, Bima, dan Sumbawa.

Namun, produksi mengalami penurunan di beberapa wilayah lain, termasuk Enrekang, Demak, Malang, dan Sampang.

Bawang putih mengalami inflasi sebesar 6,88 persen dan memberikan andil 0,03 persen.

Kenaikan harga bawang putih antara lain dipengaruhi oleh peningkatan biaya angkutan barang secara global dan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Kondisi itu menyebabkan biaya pembelian bawang putih dari negara asal menjadi lebih mahal setelah dikonversi ke dalam rupiah.

Beras juga mengalami inflasi sebesar 0,45 persen dengan andil sebesar 0,02 persen terhadap inflasi nasional.

Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan sumbangan deflasi secara bulanan, di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, sawi hijau, ketimun, dan emas perhiasan.

Inflasi tahunan sebesar 3,34 persen pada Juni 2026 terjadi karena seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 10,10 persen.

Kenaikan dalam kelompok tersebut terutama dipengaruhi oleh harga emas perhiasan.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,67 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 4,57 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat inflasi sebesar 2,36 persen.

Kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,84 persen, sedangkan perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,44 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami inflasi sebesar 1,40 persen, pendidikan sebesar 1,27 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,26 persen.

Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi tahunan sebesar 1,04 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki menjadi kelompok dengan inflasi tahunan paling rendah, yakni 1,00 persen.

Berdasarkan komoditasnya, emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan pada Juni 2026 dengan andil sebesar 0,61 persen.

Bensin memberikan andil sebesar 0,25 persen, diikuti ikan segar sebesar 0,23 persen, beras sebesar 0,16 persen, dan tarif angkutan udara sebesar 0,15 persen.

Secara kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,36 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil sebesar 0,69 persen, sedangkan kelompok transportasi menyumbang 0,55 persen.

Komoditas makanan yang dominan menyumbang inflasi tahunan meliputi ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, daging sapi, dan jeruk.

Komoditas lain yang ikut memberikan andil antara lain bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, telepon seluler, uang kuliah akademi atau perguruan tinggi, nasi dengan lauk, serta sejumlah produk tembakau.

Sebaliknya, komoditas yang memberikan sumbangan deflasi tahunan meliputi telur ayam ras, kelapa, bawang putih, kacang panjang, daging babi, ketimun, sabun detergen bubuk, pelembut atau pengharum cucian, serta uang sekolah SMA.

BPS juga melaporkan inflasi tahunan komponen inti pada Juni 2026 sebesar 2,76 persen.

Secara bulanan, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,23 persen.

Sementara inflasi komponen inti sepanjang tahun berjalan tercatat sebesar 1,61 persen.

Komponen inti merupakan bagian inflasi yang cenderung menetap dan dipengaruhi faktor fundamental, seperti interaksi permintaan dan penawaran, nilai tukar, harga komoditas internasional, serta ekspektasi masyarakat terhadap harga.

Pada tingkat provinsi, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 7,84 persen dengan IHK mencapai 122,43.

Inflasi provinsi terendah terjadi di Sulawesi Barat sebesar 2,29 persen dengan IHK sebesar 111,54.

Pada tingkat kabupaten dan kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Jayawijaya sebesar 7,84 persen dengan IHK sebesar 122,43.

Sementara itu, inflasi tahunan terendah terjadi di Kabupaten Majene sebesar 1,70 persen dengan IHK sebesar 111,48.

BPS memperoleh angka inflasi tersebut berdasarkan pemantauan perkembangan harga berbagai komoditas di 150 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah cakupan penghitungan IHK.

Seluruh kabupaten dan kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK tercatat mengalami inflasi secara tahunan pada Juni 2026.

Di Pulau Sumatera, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 7,25 persen, sedangkan yang terendah tercatat di Kota Bandar Lampung sebesar 2,08 persen.

Untuk wilayah Pulau Jawa, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 4,48 persen.

Inflasi terendah terjadi di Kota Tangerang sebesar 2,36 persen.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *