LiteX.co.id, Nasional – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan mulai menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Kementerian Kesehatan mencatat 10.674.201 penduduk terdampak di tujuh provinsi, sementara kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif telah mencapai 13.449 kasus.
Data tersebut tercantum dalam Situation Report Kemenkes per Kamis (27/08/2026).
Tujuh provinsi yang masuk dalam laporan adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Pada Kamis itu saja, Kemenkes mencatat 4.082 kasus ISPA.
Kasus gangguan pernapasan tersebut dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.
Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono mengatakan asap dan partikulat yang muncul dari karhutla dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat,” kata Dante, dikutip dari keterangan resmi Kemenkes.
Dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes pada Jumat (28/08/2026), Dante menyebut secara pembulatan jumlah kasus ISPA akibat karhutla telah mencapai sekitar 13.500 kasus sejak Juli hingga Agustus.
Angka itu konsisten dengan data rinci Situation Report Kemenkes yang mencatat 13.449 kasus.
Asap karhutla tidak hanya dikaitkan dengan ISPA.
Kemenkes mengingatkan paparan asap juga dapat memicu batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi mata dan kulit.
Risiko lebih besar dihadapi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta masyarakat yang banyak bekerja di luar ruangan.
Paparan polutan dalam jangka tertentu juga dapat memperburuk penyakit kardiovaskular.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah kualitas udara di sejumlah daerah turun hingga kategori sangat tidak sehat dan berbahaya.
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Kamis (27/08/2026) pukul 16.26 WIB, Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat ISPU 328 atau kategori berbahaya, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis.
Kondisi buruk juga tercatat di Kabupaten Tebo, Jambi, dengan ISPU 287; Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 274; Katingan 258; serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, 255.
Wilayah-wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi asap belum sepenuhnya membaik hingga akhir pekan.
Data terbaru Kementerian Kehutanan pada Minggu (30/08/2026) menunjukkan kualitas udara di sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih mencapai kategori berbahaya.
Di Kalimantan Selatan, kondisi terburuk mencapai kategori sangat tidak sehat, sementara sejumlah titik di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan pengamatan BMKG yang dipublikasikan Kementerian Kehutanan, jarak pandang di Pontianak pada Sabtu (29/08/2026) pagi hanya sekitar 800 meter.
Jarak pandang di Banjarmasin bahkan sekitar 500 meter, Jambi 800 meter, Palangka Raya 3 kilometer, Pekanbaru 2,5 kilometer, dan Palembang sekitar 6 kilometer.
Untuk menghadapi dampak kesehatan tersebut, Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memobilisasi 848 tenaga kesehatan hingga Kamis (27/08/2026) pukul 15.00 WIB.
Mereka terdiri atas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, serta tenaga pendukung lainnya.
Pemerintah juga menyiagakan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat.
Kesiapsiagaan turut melibatkan Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota terdampak.
Logistik kesehatan dalam jumlah besar ikut disalurkan.
Pemerintah daerah telah mendistribusikan 394.385 masker dan menyediakan 56 unit konsentrator oksigen.
Sementara Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menyalurkan tambahan 432.000 masker, 169 unit konsentrator oksigen, 40.000 pasang sarung tangan, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke wilayah terdampak.
Kondisi di Riau menjadi salah satu yang dipantau ketat.
Hingga Kamis (27/08/2026), dampak kesehatan karhutla telah dilaporkan dari seluruh 12 kabupaten/kota di provinsi tersebut.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sekitar 3.293 kasus ISPA, dengan jumlah tertinggi berada di Pekanbaru sekitar 900 kasus, disusul Pelalawan sekitar 600 kasus.
Sebanyak 244 puskesmas di Riau juga telah mengaktifkan Emergency Medical Team.
Di tengah penanganan dampak kesehatan, situasi karhutla masih dinamis.
Kementerian Kehutanan mencatat 20.378 hotspot secara nasional pada Sabtu (29/08/2026) berdasarkan data SiPongi yang berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 dengan tingkat kepercayaan tinggi, menengah, dan rendah.
Jumlah itu meningkat dibandingkan 18.092 hotspot pada Jumat (28/08/2026) dan 14.788 hotspot sehari sebelumnya.
Peningkatan terutama terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Kalimantan Tengah mencatat 8.488 hotspot, naik dari 7.703 titik, sedangkan Kalimantan Barat meningkat tajam dari 3.384 menjadi 6.526 hotspot.
Sebaliknya, Kalimantan Selatan turun dari 1.354 menjadi 867 hotspot, Sumatera Selatan dari 1.036 menjadi 808, Riau dari 265 menjadi 254, dan Jambi dari 181 menjadi 159 titik.
Kementerian Kehutanan mengingatkan angka hotspot tidak sama dengan jumlah kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit.
Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot sehingga tetap diperlukan pemeriksaan lapangan.
Sepanjang 2026, Kementerian Kehutanan mencatat 4.682 operasi penanganan karhutla dengan luas area yang telah ditangani mencapai 38.277,43 hektare.
Operasi melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha.
Sebelumnya, BNPB mencatat luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas telah mencapai sekitar 48.889,69 hektare hingga Sabtu (09/08/2026).
Kalimantan Barat menjadi yang terbesar dengan sekitar 28.680 hektare, disusul Riau sekitar 15.552 hektare.
Angka BNPB tersebut merupakan catatan luas kebakaran, sedangkan angka 38.277,43 hektare dari Kementerian Kehutanan merupakan luas area yang ditangani dalam operasi Manggala Agni, sehingga keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung.
BMKG menyebut sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau, dengan sebagian besar mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Kondisi kering tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis dan karhutla.
Pada periode Selasa hingga Kamis (25–27/08/2026) saja, BMKG mencatat sedikitnya 15 laporan kejadian karhutla yang tersebar di delapan provinsi.
Citra satelit Himawari-9 juga mendeteksi sebaran asap di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, hingga sejumlah wilayah Papua.
Sebagian asap terbawa pola angin dan meluas ke wilayah sekitarnya.
BMKG memprakirakan kondisi kering masih mendominasi banyak wilayah hingga awal September.
El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mendukung kecenderungan curah hujan rendah di sejumlah daerah.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah terdampak segera memakai masker ketika kualitas udara memburuk dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Kemenkes mengingatkan partikel PM2.5 dalam asap karhutla berukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Warga juga dianjurkan rutin memantau indeks kualitas udara, menjaga asupan cairan, menggunakan pelindung mata bila harus berada di luar ruangan, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas atau iritasi mata.
Kementerian Kehutanan, sementara itu, meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Hingga Minggu (30/08/2026), operasi darat, pemadaman udara dan operasi modifikasi cuaca masih dilakukan di wilayah prioritas.






