LiteX.co.id, Internasional – Wabah Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo terus meluas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 5.794 kasus terkonfirmasi dan 2.786 kematian hingga Rabu (26/08/2026), dengan tingkat kematian kasus atau case fatality ratio (CFR) mencapai 48,1 persen.
Wabah kini telah menjangkau 60 zona kesehatan di enam dari 26 provinsi di negara tersebut.
WHO menyebut peningkatan kasus dan perluasan wilayah dalam tiga bulan terakhir menunjukkan epidemi masih berada dalam kondisi serius.
Enam provinsi yang telah melaporkan kasus adalah Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uélé, Tshopo, dan Bas-Uélé.
Sejak laporan WHO sebelumnya pada 14 Agustus, enam zona kesehatan tambahan mencatat kasus Ebola.
Ituri masih menjadi pusat wabah.
Dari total kasus di Kongo, 4.802 kasus tercatat di provinsi tersebut.
Kivu Utara berada di urutan kedua dengan 775 kasus.
Dalam 24 jam hingga 26 Agustus saja, WHO mencatat 81 kasus baru dari 19 zona kesehatan di Ituri, Kivu Utara, Haut-Uélé, dan Tshopo.
Angka kematian di Kivu Utara bahkan jauh melampaui rata-rata nasional.
WHO mencatat CFR di provinsi tersebut mencapai sekitar 68 persen, tertinggi sepanjang wabah saat ini.
Penyebab tingginya tingkat kematian itu masih diselidiki.
Kecepatan pertambahan kasus terlihat dari perbandingan laporan WHO.
Pada 12 Agustus, Kongo masih mencatat 4.665 kasus terkonfirmasi dengan 2.184 kematian.
Hanya dalam kurun sekitar dua pekan, jumlah tersebut meningkat menjadi 5.794 kasus dan 2.786 kematian.
WHO mencatat sejak laporan 14 Agustus diterbitkan terdapat tambahan 1.129 kasus terkonfirmasi dan 602 kematian di Kongo.
Sebagian kenaikan angka memang berkaitan dengan perluasan surveilans, peningkatan kapasitas tes laboratorium, dan rekonsiliasi data yang sebelumnya tertunda.
Namun WHO menyatakan peningkatan tersebut juga mencerminkan transmisi yang terus berlangsung dan perluasan wabah secara nyata.
Sedikitnya 1.293 pasien di Kongo telah dinyatakan pulih hingga 26 Agustus.
WHO mempertahankan wabah Ebola Bundibugyo di Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.
Keputusan itu diambil Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus setelah mempertimbangkan rekomendasi Komite Darurat International Health Regulations (IHR) yang menggelar pertemuan keduanya pada Selasa (18/08/2026).
Laporan resmi pertemuan tersebut diterbitkan WHO pada Jumat (28/08/2026).
Status PHEIC pertama kali ditetapkan WHO terhadap wabah ini pada 17 Mei 2026, dua hari setelah Pemerintah Kongo secara resmi menyatakan terjadinya wabah Ebola ke-17 di negara tersebut.
Meski demikian, WHO menegaskan wabah tersebut belum memenuhi kriteria sebagai “pandemic emergency” atau kedaruratan pandemi.
Komite Darurat WHO menilai pertumbuhan cepat dan perluasan wilayah wabah merupakan persoalan serius yang membutuhkan respons lebih intensif dan berkelanjutan.
Berdasarkan pemodelan yang dipresentasikan dalam pertemuan komite, terdapat kemungkinan kasus yang tidak terdeteksi cukup besar.
WHO menyebut jumlah infeksi sebenarnya berpotensi tiga hingga empat kali lebih tinggi dibanding angka yang tertangkap sistem surveilans, tetapi angka itu merupakan hasil estimasi model dan bukan jumlah kasus terkonfirmasi.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pengendalian wabah masih mungkin dilakukan, tetapi respons di tingkat masyarakat harus diperbesar.
“Kita dapat mengendalikan wabah Ebola, tetapi hanya melalui peningkatan tindakan di komunitas yang terdampak,” kata Tedros, dikutip dari keterangan resmi WHO pada Senin (24/08/2026).
WHO mencatat wabah ini berkembang lebih cepat dibanding beberapa epidemi Ebola besar sebelumnya.
Pada tiga bulan pertama, rata-rata sekitar 90 kasus terkonfirmasi per hari tercatat di Kongo.
WHO bahkan menyebut wabah saat ini telah menjadi wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di Republik Demokratik Kongo, terlepas dari spesies virus Ebola yang menjadi penyebabnya.
Sebagai perbandingan, wabah Ebola di Kongo pada 2018-2020 mencatat 3.317 kasus.
Jumlah kasus wabah 2026 telah melampaui angka tersebut sejak Juli.
Namun hingga saat ini wabah di Kongo masih jauh di bawah skala epidemi Ebola Afrika Barat 2013-2016 yang menjadi wabah Ebola terbesar dalam sejarah dunia.
Persoalan lain yang membuat pengendalian lebih sulit adalah jenis virus yang menyebabkan wabah.
Virus Bundibugyo merupakan salah satu spesies dalam kelompok Orthoebolavirus.
Berbeda dengan Ebola yang disebabkan Ebola virus atau Zaire ebolavirus, hingga kini belum tersedia vaksin berlisensi maupun terapi spesifik yang disetujui untuk Bundibugyo virus disease (BVD).
Vaksin Ervebo yang telah digunakan untuk menghadapi wabah Ebola sebelumnya dirancang untuk penyakit akibat Zaire ebolavirus.
WHO menyatakan belum terdapat bukti cukup bahwa vaksin tersebut memberikan perlindungan terhadap Bundibugyo pada manusia.
Meski demikian, Kongo mulai memberikan Ervebo kepada tenaga kesehatan pada Kamis (27/08/2026) di sejumlah wilayah, termasuk Kisangani, Provinsi Tshopo.
Penggunaannya dilakukan bersamaan dengan penelitian untuk mengetahui apakah vaksin tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap Bundibugyo.
WHO menilai uji klinis penting untuk menghasilkan bukti yang dapat menjadi dasar penggunaan vaksin di masa depan.
WHO dan Africa CDC sebelumnya juga menyambut alokasi vaksin ke Kongo sebagai bagian dari respons darurat, sementara pengembangan kandidat vaksin khusus Bundibugyo terus dilakukan.
Penyebaran virus terjadi di tengah kondisi kemanusiaan yang rumit di Kongo bagian timur.
WHO menyebut konflik bersenjata, ketidakamanan, perpindahan penduduk dalam jumlah besar hingga keterbatasan akses pelayanan kesehatan mempersulit pelacakan kontak dan perawatan pasien.
Sekitar satu juta pengungsi internal berada di Provinsi Ituri, sementara lebih dari 26 juta orang di Kongo menghadapi kerawanan pangan akut.
Kepadatan permukiman, keterbatasan air bersih dan sanitasi, aktivitas pertambangan serta sulitnya menjangkau sejumlah komunitas ikut menghambat deteksi dini.
WHO sebelumnya juga menemukan banyak pasien baru belum terhubung dengan rantai kontak yang sudah diketahui, membuat penularan di masyarakat semakin sulit dilacak.
Hingga 26 Agustus, terdapat 26.850 orang yang harus dipantau karena pernah berkontak dengan kasus.
Sebanyak 22.091 atau 82,3 persen berhasil ditindaklanjuti dalam 24 jam terakhir.
Lebih dari Separuh Kematian Sempat Terjadi di Luar Pusat Ebola
WHO juga menyoroti tingginya angka kematian pasien sebelum memperoleh perawatan di fasilitas khusus.
Dalam enam pekan menjelang 24 Agustus, sekitar 60 persen dari rata-rata 260 kematian mingguan terjadi di masyarakat atau di luar pusat perawatan Ebola.
Kondisi itu dinilai mencerminkan masih adanya persoalan dalam deteksi dini, rujukan pasien serta akses menuju fasilitas perawatan.
Di tengah situasi tersebut, kapasitas respons diperbesar.
WHO menyebut jumlah laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan meningkat dari satu menjadi 19 laboratorium, dengan kapasitas lebih dari 3.000 sampel setiap hari.
Kapasitas tempat tidur perawatan juga bertambah dari kurang dari 10 pada awal wabah menjadi lebih dari 1.300 tempat tidur.
Lebih dari 900 fasilitas kesehatan telah mendapat dukungan pencegahan dan pengendalian infeksi.
WHO telah mengerahkan lebih dari 260 tenaga ahli serta mengirim lebih dari 330 ton pasokan medis dan operasional untuk mendukung penanganan wabah.
Kasus Juga Pernah Terdeteksi di Uganda dan Prancis
WHO mencatat secara keseluruhan terdapat 5.815 kasus terkonfirmasi yang berkaitan dengan wabah ini hingga 26 Agustus.
Angka itu terdiri atas 5.794 kasus di Kongo, 20 kasus di Uganda, dan satu kasus di Prancis.
Total kematian mencapai 2.788 orang, terdiri atas 2.786 di Kongo dan dua di Uganda.
Namun tidak ditemukan lagi penularan baru di Uganda maupun Prancis.
Kedua negara telah menyelesaikan periode pemantauan ketat selama 42 hari pada Kamis (27/08/2026).
WHO tetap menganggap risiko penyebaran lintas batas belum hilang karena tingginya mobilitas penduduk dari daerah terdampak.
Kongo sendiri berada pada kategori risiko sangat tinggi, sementara negara yang berbatasan langsung dinilai memiliki risiko tinggi.
Uganda, Republik Afrika Tengah dan Sudan Selatan mendapat perhatian khusus karena mobilitas penduduk dan kedekatannya dengan kawasan penularan aktif.
Untuk wilayah Afrika lainnya dan tingkat global, WHO masih menilai risikonya rendah.
WHO juga tidak merekomendasikan penutupan penerbangan secara menyeluruh maupun pembatasan perdagangan dengan Kongo.
Negara lain diminta meningkatkan kemampuan mendeteksi pelancong dengan demam yang datang dari wilayah transmisi dan menyiapkan fasilitas isolasi serta laboratorium untuk pemeriksaan.
Menurut WHO, Bundibugyo virus disease merupakan penyakit zoonosis.
Kelelawar buah diduga menjadi reservoir alami virus tersebut.
Penularan antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, organ atau sekresi orang yang terinfeksi, maupun permukaan dan benda yang telah terkontaminasi.
Penularan juga dapat terjadi saat pemakaman apabila seseorang melakukan kontak langsung dengan jenazah penderita.
Masa inkubasinya berkisar dua hingga 21 hari.
Seseorang yang terinfeksi tidak menularkan virus sebelum gejala muncul.
Gejala awal antara lain demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan.
Kondisi dapat berkembang menjadi gangguan saluran pencernaan dan fungsi organ, serta pada sebagian pasien disertai perdarahan.
Belum adanya vaksin khusus dan terapi spesifik membuat penanganan saat ini sangat bergantung pada deteksi dini, isolasi, perawatan suportif, pelacakan kontak, pemakaman aman, serta keterlibatan masyarakat.
WHO memperingatkan beberapa bulan ke depan menjadi periode krusial untuk menentukan apakah laju penularan dapat ditekan atau wabah terus meluas.






