Don't Show Again Yes, I would!

Dugaan Pembungkaman Miftahul Rizqi, Dirga Saputra: Ini Kemunduran Nyata Demokrasi Kita

LiteX.co.id, Palopo – Dugaan upaya intimidasi dan pembungkaman yang menimpa Koordinator Pusat Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN), Miftahul Rizqi, terus menuai kecaman keras dari berbagai kalangan.

Menanggapi situasi yang memprihatinkan tersebut, tokoh pemuda M. Dirga Saputra angkat bicara dan memberikan pernyataan tegas.

Menurut Dirga, apabila dugaan intimidasi tersebut benar-benar terjadi di lapangan, maka tindakan represif itu bukan hanya sekadar serangan terhadap satu individu.

Lebih jauh dari itu, hal tersebut merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap nilai-nilai luhur Pancasila, prinsip demokrasi, dan muruah negara hukum.

Dalam pandangannya, kebebasan untuk menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional mutlak yang dijamin penuh oleh negara.

Hal ini tertuang jelas dalam Pasal 28E Ayat (3) UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Tak hanya itu, perlindungan serupa juga ditegaskan melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Tidak boleh ada pihak mana pun yang merasa kebal hukum lalu menggunakan kekuasaan, pengaruh, atau kepentingannya untuk membungkam suara mahasiswa. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Jika kritik dijawab dengan intimidasi, maka yang sedang diserang bukan hanya seorang mahasiswa, tetapi hak rakyat untuk bersuara,” tegas Dirga.

Tindakan intimidatif yang menyasar aktivis mahasiswa dinilai olehnya sebagai sebuah kemunduran iklim demokrasi yang sama sekali tidak boleh dibiarkan tumbuh subur.

Mahasiswa, kata Dirga, selama ini secara konsisten menjalankan fungsi kontrol sosial guna memastikan arah pembangunan dan kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Menyikapi besarnya tekanan yang ada, Dirga mengajak seluruh elemen pemuda Indonesia, khususnya para Presiden Mahasiswa dan pimpinan DEMA PTKIN se-Indonesia, agar tidak sedikit pun gentar dalam menghadapi ancaman dari pihak-pihak yang anti terhadap kritik.

“Saya mengajak seluruh mahasiswa Indonesia untuk tetap berdiri bersama rakyat, membela masyarakat kecil, dan terus membongkar berbagai penyimpangan, ketidakadilan, serta kebejatan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Jangan pernah takut. Sebab sejarah membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian, bukan dari ketakutan. Semakin ditekan, semakin melawan. Semakin dibungkam, semakin lantang menyuarakan kebenaran,” serunya menggebu-gebu.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bangsa ini sangat membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mengungkap kebenaran, alih-alih merawat ketakutan yang pada akhirnya hanya akan melanggengkan praktik ketidakadilan.

Untuk itu, aparat penegak hukum dituntut harus hadir memastikan adanya perlindungan terhadap kebebasan berpendapat, sekaligus mengusut tuntas segala bentuk dugaan intimidasi yang berpotensi mengancam ruang demokrasi.

“Ketika mahasiswa dibungkam karena membela rakyat, maka Pancasila sedang dikhianati. Ketika kritik dianggap ancaman, demokrasi sedang diperkosa. Dan ketika kebenaran berusaha dipadamkan, maka perlawanan adalah kewajiban moral setiap insan yang masih peduli terhadap masa depan bangsa,” tutupnya memberikan pesan perlawanan moral.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *