LiteX.co.id, MOROWALI — Masalah listrik di Morowali bukan karena kekurangan daya pembangkit tenaga listrik, hanya saja PLN yang tidak mampu mendistribusikannya. Hal ini ditegaskan Aim Labungasa saat mendampingi Anggota DPR RI Komisi VII Adian Yunus Yusak Napitupulu, saat kunker ke PT. IMIP Morowali dan tatap wajah dengan Assosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja (APJAKER).
Aim menyampaikan hal ini di hadapan APJAKER Morowali, di salah satu cafe di Kecamatan Bahodopi, Morowali. Kamis (6/7). Sekaligus menjawab pertanyaan Sekretaris Camat (Sekcam) Bahodopi, Arsan yang sebenarnya ditujukan kepada Adian Natipulu.

Arsan mempertanyakan kepada Adian apa solusi dari buruknya pelayanan PLN di Morowali termasuk di Kecamatan Bahodopi, kemudian dijawab oleh Aim ,” Ini yang harus masyarakat ketahui, persoalan listrik itu bukan permasalahan pada PT. IMIP, karena perusahaan itu sudah menjual Tenaga Listrik ke PLN dan daya berapa saja cukup bahkan surplus, hanya memang PLN yang tidak mampu mendistribusikannya, “ungkap Sekjen DPP Pospera tersebut.
Ia juga menyampaikan seharusnya PLN selaku BUMN mendahulukan pelayanan bukan memikirkan keuntungan semata. Diketahui
Persoalan listrik di Morowali masih belum juga selesai, sampai saat ini warga masih juga mengeluhkan buruknya pelayanan soal listrik.
Buruknya pelayanan listrik di Morowali salah satunya di desa Bahomakmur, masih ada tempat tinggal warga yang tidak mendapatkan fasilitas listrik dan terpaksa menyambung ke tetangga.
Diketahui PLN telah menandatangni Pembelian Tenaga Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) sejak lama, untuk Kelebihan Tenaga Listrik (excess power) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan.
Kerja sama excess power ini adalah wujud nyata dari upaya PLN untuk meningkatkan pasokan listrik di Sulawesi Tengah, khususnya di kabupaten Morowali,” kata Baringin, saat itu di Jakarta, tahun 2016 lalu.
Faktanya, sampai hari ini pelayanan listrik di Morowali masih jauh dari kata prima. Buruknya alat perlengkapan PLN untuk pendistribusian seperti kabel listrik yang di bawah dari standar sehingga hanya dengan gangguan cuaca buruk saja bisa berefek pada padamnya lampu bahkan mengakibatkan kebakaran karena arus pendek listrik. Bukan sekedar itu, warga dikhabarkan harus antri bertahun- tahun lamanya untuk sekedar mendapatkan KWH meteran listrik.
Seorang warga bernama Ega mengatakan telah mendaftarkan tempat tinggal miliknya untuk mendapatkan pelayanan dari PLN dan telah membayar lunas namun sama sekali belum mendapatkan KWH meteran listrik. Ada juga warga bernama Intan mengaku telah mendaftar namun disuruh menunggu, ” kalau saya sih belum bayar katanya nanti kalau sudah dimasukkan mau KWH baru bayar, tapi ini mi akibatnya juga sudah satu tahun lebih belum dapat sambungan sampai sekarang, katanya pihak PLN masih ada ribuan yang antri, “ungkap warga Bahomakmur ini.
Anggota DPR RI Komisi VI, Adian Natipulu saat diwawancara terkait persoalan listrik di Morowali, ia mengatakan sebenarnya polemik ini adalah rananya pemerintah setempat, namun tidak apa-apa hal ini disampaikan ke dirinya untuk disampaikan lagi kepada komisi yang menangani. “ini sebenarnya bukan ranahnya saya di komisi tujuh tapi nanti ini saya tampung lalu disampaikan ke pihak yang mampu memberikan solusi, karena saya juga heran kalau di negara besar ini apalagi di Morowali masih ada masyarakat belum menikmati listrik, sementara ekonomi di sini mengalami peningkatan, kalau memang tidak ada kabel ya dibeli atau tidak ada tiang ya dibeli kalau anggaran tidak ada diusulkan” tegasnya.
Sementara dari pihak PLN sendiri belum berhasil diminta konfirmasinya terkait keluhan warga soal pelayanan listrik. (kartini)






