Don't Show Again Yes, I would!

Warga Rante Balla Dilatih Kelola Dapur Umum untuk Hadapi Bencana

PT Masmindo Dwi Area memperkuat Desa Tangguh Bencana di Luwu melalui simulasi dapur umum untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi kondisi darurat.

LiteX.co.id, Luwu – PT Masmindo Dwi Area (MDA) kembali memperkuat Program Jaga Keselamatan Desa melalui pengembangan kapasitas Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu.

Penguatan kali ini difokuskan pada kemampuan masyarakat mengelola dapur umum sebagai salah satu kebutuhan penting dalam penanganan kondisi darurat pascabencana. Program tersebut disampaikan MDA melalui siaran pers pada Kamis (13/8/2026).

Kegiatan itu dilaksanakan bersama Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP).

Sejumlah pihak turut dilibatkan, antara lain Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia, Pusat Penelitian Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Tim Tanggap Darurat MDA, serta masyarakat setempat.

Kolaborasi lintas lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan bencana yang terkoordinasi di tingkat desa.

Dalam simulasi, warga tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai fungsi dapur umum, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan pengelolaannya.

Tahapan tersebut meliputi pembagian peran, koordinasi personel, pengelolaan bahan pangan, proses pengolahan makanan, serta pendistribusian makanan kepada masyarakat terdampak.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Luwu Rusdin mengatakan, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat menjadi bagian penting dari ketangguhan suatu desa dalam menghadapi bencana.

“Ketangguhan desa tidak hanya diukur dari kemampuan masyarakat menyelamatkan diri dari ancaman bencana, tetapi juga dari kemampuannya memastikan tidak ada warga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar setelah bencana terjadi,” ujar Rusdin.

Menurutnya, dapur umum menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sosial.

Keselamatan tidak hanya dimaknai sebagai upaya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup bersama.

Rusdin menambahkan, keterlibatan pemerintah, masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan perusahaan dalam simulasi penting untuk membangun koordinasi sebelum terjadi kondisi darurat.

Dengan demikian, setiap pihak dapat memahami perannya ketika menghadapi bencana.

Ketua PUSPENA UNCP Ichwan Muis menilai, kesiapsiagaan masyarakat tidak cukup dibangun hanya melalui pengetahuan teknis mengenai kebencanaan.

Kemampuan warga mengenali risiko, mengorganisasi diri, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di desa juga diperlukan agar masyarakat dapat mengambil peran ketika terjadi kondisi darurat.

“Desa Tangguh Bencana dibentuk untuk mengenali risiko, mengorganisasi masyarakat, dan menciptakan kesadaran sosial dalam menjaga keselamatan desa,” kata Ichwan.

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang MDA Mustafa Ibrahim mengatakan, penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari Program Jaga Keselamatan Desa.

Menurutnya, kesiapsiagaan bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk mengorganisasi diri dan memenuhi kebutuhan dasar dalam kondisi darurat.

“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum kondisi darurat terjadi. Melalui latihan seperti ini, masyarakat tidak hanya memahami perannya, tetapi juga memiliki pengalaman bekerja bersama, mengelola sumber daya yang tersedia, dan merespons situasi secara lebih terorganisasi,” ujar Mustafa.

Simulasi dapur umum di Rante Balla melengkapi rangkaian penguatan Destana yang dijalankan MDA bersama PUSPENA dan para pemangku kepentingan terkait.

Melalui program tersebut, kemampuan penanganan bencana diharapkan semakin melekat di tingkat desa dan dapat diterapkan masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *