Don't Show Again Yes, I would!

24 Pengidap HIV-AIDS di Luwu Utara Satu meninggal dunia

LiteX.co.id, LUWU UTARA – Petugas Kesehatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara menemukan sejumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)- Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Jumlah ODHA yang terdata 24 orang, satu penderita dinyatakan telah meninggal dunia.

Para ODHA ini berasal dari Kecamatan Sabbang, Malangke, Sukamaju, Bone-Bone. Keberadaan ODHA diketahui setelah petugas kesehatan di Luwu Utara

Turun melakukan tes yang dilakukan di puskesmas pada saat pelayanan. Penularan dilakukan melalui darah, jarum suntik dan pergaulan bebas.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Luwu Utara, dr. Gunawan,membeberkan ciri-ciri atau gejala awal HIV-AIDS yaitu sakit kepala, kelelahan, sakit otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam merah yang tidak gatal pada tubuh dan demam.

Kalau ada yang sudah merasakan gejala seperti ini, diharapkan agar segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit.

“Kami sudah melakukan penyuluha agar penderita segera melakukan pengobatan Antiretroviral (ARV) di Puskesmas dan rumah sakit jika mengalami cirri-ciri yang sudah dijelaskan. Sekarang Puskesmas dan rumah sakit sudah mampu melakukan tes dan pengobatan terhadap penderita HIV-AIDS. Jadi masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar daerah untuk berobat, karena semua puskesmas di wilayah dataran sudah bisa memberikan pelayanan pengobatan,” ungkap Gunawan.

Diketahui, belum lama ini, Dinkes Kabupaten Luwu Utara melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) telah membentuk delapan Pelayanan Dukungan Pengobatan (PDP). Pembentukan delapan PDP ini terobosan Dinkes Luwu Utara dalam rangka untuk mengendalikan HIV/AIDS di daerah kekuasaan Indah Putri Indriani tersebut.

“Kita membentuk delapan PDP ini untuk mencapai tiga Zero, yaitu tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS serta tidak ada stigma dan diskriminasi untuk mencapai eliminasi HIV pada 2030,” kata Kadis Kesehatan, Marhani Katma, dalam Pertemuan Sistem Pencatatan Pelaporan Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA), 11 Juni 2022 lalu, di Masamba.

Meski telah dibentuk delapan PDP mencegah kematian bagi ODHA, faktanya satu penderita meinggal dunia. Saat itu Marhani Katma menyebutkan, tujuan dari PDP ini untuk meningkatkan pelayanan kesehatan agar semua ODHA mendapatkan pelayanan standar dan akses yang lebih mudah dan cepat.

“Kita berharap delapan PDP yang kita bentuk ini nantinya bisa berkontribusi dalam mencapai target eliminasi HIV pada 2030 mendatang, yaitu 3 zero tadi,” jelas mantan Direktur RSUD Andi Djemma Masamba ini.

Untuk mendukung peningkatan kualitas pelaporan informasi HIV/AIDS, delapan PDP ini mengikuti pertemuan Sistem Pencatatan Pelaporan Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) sebagai upaya penguatan keberadaan delapan PDP.

Semua layanan puskesmas yang telah dibentuk PDP ini wajib mengikuti pertemuan Sistem Pencatatan Pelaporan Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) untuk meningkatkan kualitas pelaporan, sehingga menjadi sebuah informasi yang bermanfaat untuk intervensi penyakit HIV/AIDS.

Berikut delapan Pelayanan Dukungan Pengobatan (PDP) yang telah dibentuk:

  1. Puskesmas Sukamaju
  2. Puskesmas Malangke
  3. Puskesmas Tanalili
  4. Puskesmas Bonebone
  5. Puskesmas Sabbang
    6 Puskesmas Sabbang Selatan
  6. Puskesmas Lara
  7. RSUD Andi Djemma Masamba

Data Dari KPA Sulsel 77 Odha di Luwu Utara

Dinkes Pemkab Luwu Utara yang memiliki data 24 ODHA, berbeda dengan yang pernah dirilis oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Sulsel hingga November 2022.

Sulsel berada di urutan ke-7 secara nasional dengan jumlah kasus mencapai 22.368.

Penderita human immunodeficiency virus (HIV) sebanyak 16.428.

Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) sebanyak 5.940.

“Data tersebut merupakan akumulasi mulai tahun 2005 hingga November 2022,” kata Sekretaris KPA Sulsel Muharram Sahude, Kamis (22/12/2022).

Berikut data penyebaran HIV 24 kabupaten/kota di Sulsel:

  1. Makassar 11.499
  2. Palopo 619
  3. Jeneponto 535
  4. Parepare 488
  5. Bone 436
  6. Sidrap 290
  7. Wajo 289
  8. Gowa 217
  9. Bulukumba 204
  10. Sinjai 204
  11. Luwu 190
  12. Pangkep 185
  13. Pinrang 181
  14. Tana Toraja 173
  15. Luwu Timur 167
  16. Maros 148
  17. Soppeng 123
  18. Selayar 88
  19. Toraja Utara 81
  20. Luwu Utara 77
  21. Bantaeng 75
  22. Takalar 68
  23. Barru 37
  24. Enrekang 33.

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV) yang ditandai adanya penurununan sistem daya tahan tubuh secara progresif berakibat terjadinya infeksi oportunistik dan komplikasi lain. Berbagai upaya dilakukan agar pasien terinfeksi HIV tidak jatuh dalam kondisi AIDS. Salah satunya yaitu memantau sistem daya tahan tubuh pasien terinfeksi HIV.

Sistem daya tahan tubuh diperankan oleh berbagai komponen. Sel darah putih atau dikenal nama lekosit memiliki peran penting dalam sistem daya tahan tubuh manusia. Sel darah putih terdiri dari beberapa jenis sel. Ada netrofil, limfosit, monosit, eosinofil dan basofil. Netrofil dan limfosit merupakan jenis sel darah putih dengan jumlah terbanyak diantara jenis lain. Netrofil merupakan jenis sel darah putih utamanya berperan dalam melawan bakteri.

Sel darah putih jenis limfosit terdiri dari jenis limfosit T dan limfosit B. Jenis Limfosit B berperan dalam memproduksi antibodi. Sel Limfosit T memiliki peran tergantung jenis penanda yang ada pada sel tersebut. Penanda pada sel limfosit T tersebut disebut Cluster of Differentiation (CD). Ada jenis limfosit T dengan penanda CD8, ada juga dengan penanda CD4. Sel Limfosit T CD8 berperan sebagai pembunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus. Sel limfosit jenis ini juga berperan dalam mengakhiri respon kekebalan dalam tubuh agar tidak berlebihan.

Jenis Limfosit T CD4 merupakan jenis sel darah putih khusus jenis limfosit yang berperan sebagai pemicu sistem daya tahan tubuh manusia melalui rangsangan produksi antibodi oleh sel limfosit B atau melalui kinerja sel T pembunuh serta sel darah putih lain. Jenis sel limfosit T CD4 merupakan target utama dari virus HIV dalam menginfeksi tubuh manusia. Semakin turun jumlah limfosit T CD4 dalam darah, maka akan semakin turun daya tahan tubuh seseorang. Untuk memantau progresivitas pasien terinfeksi HIV, pemeriksaan jumlah jenis sel tersebut dalam darah rutin dilakukan. Pemeriksaan laboratorium untuk mengukur jumlah limfosit T CD4 dikenal dengan pemeriksaan CD4.

Pemeriksaan darah lengkap otomatis lazim dan rutin dilakukan dalam pemantauan pasien infeksi. Pemeriksaan ini mengukur jumlah trombosit, sel darah putih dan jenisnya, sel darah merah dengan indeksnya juga mengukur kadar hemoglobin yang ada dalam sel darah merah. Hemoglobin berperan dalam mengangkut oksigen untuk didistribusikan ke sel-sel tubuh yang diperlukan dalam proses menghasilkan energi. Penurunan hemoglobin menandakan bertambah progresivitas infeksi HIV yang mendekati kondisi AIDS.

Jenis sel darah putih atau lekosit yang diukur melalui pemeriksaan darah lengkap otomatis meliputi netrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Dalam implementasinya, jenis lekosit sering dilakukan penghitungan rasio, seperti rasio limfosit: lekosit dan rasio limfosit : netrofil. Penggunaan rasio ini bermanfaat dalam deteksi dini adanya respon terhadap infeksi yang menunjukkan kuatnya sistem daya tahan tubuh seseorang.

Semakin parah kondisi pasien terinfeksi HIV, maka akan semakin rendah jumlah CD4-nya. Penelitian ini menilai hubungan CD4 dengan jumlah limfosit, kadar hemoglobin, Rasio Jumlah limosit: Sel darah putih, dan rasio jumlah limfosit: netrofil pada pasien terinfeksi HIV. Hal ini tidak lepas dari peran sel limfosit T CD4 sebagai pemicu sistem daya tahan tubuh manusia serta indikator progresivisitas infeksi HIV. (aks/kar)

Share:

Ocha

Seorang pengembang muda yang saat ini tengah mencari peluang kerja di Jepang. Memiliki ketertarikan besar pada dunia teknologi, budaya pop, dan fiksi detektif. Saat tidak sibuk mengotak-atik kode, ia senang membaca novel misteri dan membayangkan diri sebagai “Sherlock Holmes” versi Indonesia. Pecinta musik, terutama karya-karya NewJeans—yang menurutnya, akan selalu abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *