LiteX.co.id, Internasional – Pasukan Israel kembali menyerang Kota Jenin di Tepi Barat, sehari setelah insiden kekerasan oleh pemukim Israel yang merusak properti dan menyerang warga Palestina.
Laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa delapan orang tewas dan 35 lainnya luka-luka dalam serangan tersebut, menurut informasi yang dikutip dari The Guardian, Rabu (22/01/2025).
Palang Merah Palestina menyatakan bahwa tim medis mereka merawat tujuh korban luka akibat tembakan, tetapi akses mereka ke lokasi kejadian sempat dihalangi oleh pasukan Israel.
Direktur Rumah Sakit Khalil Suleiman, Wissam Bakr, melaporkan bahwa dua dokter dan tiga perawat terluka dalam operasi militer itu.
Serangan ini merupakan bagian dari Operasi Tembok Besi yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan keamanan di wilayah Yudea dan Samaria.
Netanyahu menyebut operasi ini melibatkan polisi, militer, serta badan intelijen Shin Bet dan bertujuan menargetkan “poros Iran” yang diduga menyuplai senjata ke Gaza, Lebanon, Suriah, dan Yaman.
Netanyahu menegaskan, “Kami bertindak dengan hati-hati dan tegas melawan setiap ancaman, baik di Gaza maupun Tepi Barat.”
Operasi ini berlangsung di tengah gencatan senjata di Jalur Gaza yang telah memasuki hari ketiga.
Namun, Jenin menjadi salah satu wilayah dengan intensitas serangan tertinggi dalam konflik yang sudah berlangsung selama lebih dari 15 bulan.
Operasi ini juga disertai pembatasan ketat terhadap pergerakan warga Palestina.
Pos pemeriksaan baru didirikan, dengan antrean kendaraan yang mencapai kilometer dan waktu tunggu hingga delapan jam. Hal ini menyebabkan aktivitas komunitas Palestina di Tepi Barat terhambat secara signifikan.
Di sisi lain, pemukim Israel dilaporkan melakukan serangan terhadap desa-desa Palestina, merusak properti dan melukai lebih dari 21 orang, termasuk tiga anak-anak.
Kepala Desa Jinasfut, Jalal Bashir, melaporkan serangan terhadap wilayah Jinasfut dan Funduq, yang terjadi setelah puluhan tahanan Palestina dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran sandera dengan Hamas.
Badan HAM PBB untuk wilayah Palestina menyatakan kekhawatiran atas peningkatan operasi militer Israel di Tepi Barat, termasuk penggunaan kekuatan berlebihan dan pembatasan kebebasan bergerak bagi warga Palestina.
Pemerintah Palestina juga menuduh Donald Trump berkontribusi pada eskalasi kekerasan. Trump mencabut sanksi terhadap kelompok pemukim sayap kanan Israel yang diduga terlibat dalam serangan terhadap warga Palestina.
Keputusan ini dianggap mengancam stabilitas dan perdamaian di wilayah tersebut.






