LiteX.co.id, Luwu – Dari tanah Papua, ribuan kilometer jauhnya, seorang pemuda bernama Setiels Sama datang ke Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, membawa sebuah mimpi sederhana namun penuh makna: menjadi seorang perawat dan membanggakan keluarganya.
Setiels merupakan anak ke-7 dari delapan bersaudara. Ia lahir pada 3 Februari 2006 dari pasangan Ruth dan Palak.
Ia berasal dari suku Dani dan dilahirkan di Wamena, salah satu wilayah di pedalaman Papua.
Meski tumbuh jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, keterbatasan tempat asal tidak pernah menyurutkan langkah Setiels untuk mengejar pendidikan.
Justru dari tanah kelahirannya itulah tumbuh tekad untuk kelak menjadi seorang tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan dan membantu sesama.
Setelah menempuh pendidikan di Timika, Kabupaten Mimika, Setiels kembali memilih jalan perantauan.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di STIKES Datu Kamanre Kabupaten Luwu, dengan mengambil Program Studi S1 Keperawatan.
Keputusannya melanjutkan pendidikan ke Belopa bukanlah perjalanan yang mudah. Kedua orang tuanya masih berada di Wamena, sementara Setiels harus menempuh pendidikan jauh dari keluarga.
Namun, bagi dirinya, jarak bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Setiels mengaku mengenal STIKES Datu Kamanre melalui media sosial. Informasi mengenai kampus, termasuk berita tentang fasilitas asrama gratis bagi mahasiswa yang berasal dari luar daerah, semakin menguatkan keinginannya untuk memilih kampus tersebut.
Tak ada rasa ragu sedikitpun ia kemudian nekad terbang dari Timika menuju Makassar dan langsung tiba di STIKES datu Kamanre.
“Sebelumnya saya sudah daftar online Kaka,” dengan nada khas papuanya.
Bagi Setiels, kesempatan mendapatkan pendidikan sekaligus tempat tinggal selama menempuh perkuliahan menjadi salah satu hal penting.
Sebagai mahasiswa yang datang dari Papua, fasilitas tersebut memberikan rasa aman dan membantu dirinya beradaptasi dengan lingkungan baru.
Sesampainya di Belopa, Setiels mengaku mendapatkan kesan yang baik. Ia merasa nyaman berada di lingkungan STIKES Datu Kamanre dan mulai beradaptasi dengan kehidupan kampus.
“Di sini saya merasa nyaman. Saya bisa bertemu dengan banyak orang dan mendapatkan pengalaman baru dengan suku yang berbeda namun terasa saudara,” demikian kesan Setiels mengenai kampus barunya.
Perjalanan Setiels menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas wilayah. Dari Wamena, ia merantau ke Timika untuk bersekolah, kemudian kembali menempuh perjalanan jauh menuju Belopa demi mendapatkan pendidikan tinggi.
Pilihan untuk mengambil S1 Keperawatan juga tidak terlepas dari keinginannya untuk menjadi seorang pelayan di bidang kesehatan.
Menjadi perawat, bagi Setiels, bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Di balik perjuangannya, ada harapan besar dari kedua orang tuanya. Mereka berharap Setiels dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan suatu hari kembali membawa “secercah cahaya” bagi keluarganya.
Harapan itu pula yang menjadi penyemangat Setiels untuk terus belajar. Ia ingin keberhasilannya kelak tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusinya bagi bangsa.
Kini, Setiels sedang menjalani masa awal sebagai mahasiswa STIKES Datu Kamanre. Ia fokus mengikuti berbagai program, kegiatan, serta materi pengenalan kampus sebagai bagian dari proses adaptasi di lingkungan perguruan tinggi.
Di usianya yang masih muda, Setiels telah menunjukkan keberanian untuk meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi sebuah cita-cita.
Ia datang dari Wamena dengan membawa mimpi, melewati Timika sebagai bagian dari perjalanan pendidikannya, hingga akhirnya berlabuh di Belopa.
Perjalanannya mungkin baru dimulai. Namun dari ribuan kilometer yang telah ditempuh, Setiels telah menunjukkan satu hal penting: pendidikan adalah jalan yang berani ditempuh oleh mereka yang memiliki harapan besar.
Kelak, ketika berhasil menyandang gelar sebagai perawat, Setiels tidak hanya membawa ijazah pulang ke tanah Papua.
Ia juga akan membawa cerita tentang perjuangan, keberanian merantau, serta harapan kedua orang tuanya yang sejak awal percaya bahwa anak mereka dapat menjadi salah satu harapan bagi keluarga dan bangsa.
Selain Setiels dari Papua masih ada beberapa setiels-setiels yang lain yang juga memiliki kisah yang sama memilih STIKES Datu Kamanre. Ada dari Medan, Manado dan Rampi. (echa)






