Don't Show Again Yes, I would!

Tawaran Pemindahan 450 Kilogram Uranium Ditolak, Konflik AS dan Iran Semakin Alot

Juru Bicara Kremlin Dimitry Peskov. (Wikimedia Commons/Kremlin.ru/Пресс-служба Президента России)

LiteX.co.id, Internasional – Upaya Moskow untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah melalui jalur diplomasi nuklir tampaknya menemui jalan buntu.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak keras proposal resmi dari Rusia yang menawarkan pengambilalihan seluruh persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan kekecewaannya atas respons negatif dari pemerintahan Presiden Donald Trump tersebut pada Kamis (16/04/2026).

Ia menyebut bahwa gagasan yang diajukan langsung oleh Presiden Vladimir Putin ini sebenarnya merupakan jalan keluar yang sangat rasional untuk mengakhiri konflik yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu.

“Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya,” ungkap Peskov kepada saluran televisi India Today, seperti dikutip dari kantor berita RIA.

Bagi Kremlin, pemindahan material nuklir tersebut dari Iran untuk diubah menjadi bahan bakar reaktor sipil di Rusia adalah langkah negosiasi yang menjanjikan stabilitas.

Namun, Washington memiliki pandangan yang berbeda terkait skema penyelesaian ini.

“Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini,” imbuh Peskov.

Penawaran dari Negeri Beruang Merah ini rupanya bukan hal baru. Opsi pengambilalihan uranium pertama kali dilemparkan ke meja perundingan pada Juni tahun lalu, namun menguap tanpa tindak lanjut sebelum akhirnya kembali disodorkan pada pekan ini.

Di sisi lain, Teheran sendiri menegaskan bahwa persetujuan penyerahan stok uranium akan sangat bergantung pada tercapainya kesepakatan damai komprehensif yang melibatkan program nuklir mereka dengan pihak AS.

Masalah penguasaan uranium memang menjadi salah satu poin krusial yang dituntut oleh AS. Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga level 60 persen.

Sebagian besar material berbahaya ini terkubur di fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang sempat menjadi sasaran bombardir AS dan Israel dalam perang pada Juni tahun lalu.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan telah memberikan ultimatum keras kepada Teheran.

Ia menyatakan bahwa pihak Iran harus menyerahkan persediaan uranium tersebut secara sukarela, atau militer AS akan mengambil paksa material itu melalui cara-cara lain.

Menanggapi agresi militer Washington yang diklaim bertujuan mencegah Iran memiliki senjata pemusnah massal, Peskov melontarkan bantahan.

Ia merujuk pada pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di bawah PBB yang sejauh ini tidak pernah menemukan bukti kuat mengenai proyek pembuatan senjata nuklir oleh Teheran.

Peskov menilai narasi ancaman nuklir tersebut semata-mata digunakan “sebagai dalih untuk agresi”.

Lebih lanjut, Peskov juga menepis spekulasi yang menuduh Moskow memberikan dukungan logistik maupun intelijen militer kepada pasukan Iran dalam menghadapi gempuran AS dan Israel.

“Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami,” tegasnya.

Pernyataan ini sejalan dengan konfirmasi dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang membeberkan bahwa Putin telah meyakinkan Trump secara personal terkait absennya campur tangan intelijen Rusia.

Kendati demikian, bantahan Kremlin ini sedikit menimbulkan tanda tanya mengingat Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya sempat mengklaim bahwa Moskow memberikan bantuan militer “dalam berbagai arah” kepada negaranya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *